Ada hal mendasar, perambahan dan pembabatan konservasi TNGL tersebut sudah berjalan cukup lama. Logikanya para pemangku jabatan atas wilayah TNGL tersebut di mana?.
Sesungguhnya LembAHtari dan KJL menilai dan menduga telah terjadi pembiaran atas perambahan dan pembabatan Taman Nasional tersebut.
Atas upaya serta analisa dari hasil monitoring LembAHtari dan KJL mendesak pemerintah dan mengungkap fakta dan data di lapangan bahwa; telah terjadi pembabatan dan perambahan hutan konservasi TNGL secara brutal.
Menkmapanyekan kedunia internasional, kerusakan ekologi di kawasan konservasi TNGL, berkoordinasi dengan para pemangku kebijakan untuk melakukan tindakan tegas terhadap kerusakan Taman Nasional dimaksud.
“Kami tidak iri, BBTNGL menggaet NGO besar untuk berkolaborasi yang sudah punya nama seperti OIC, WCW, YEL, PETAI, FKL dan YSHL. Tapi apa pernah mereka menyuarakan kerusakan kawasan konservasi TNGL?, baik Hutan Lindung dan Hutan Produksi Mangrove di wilayah pesisir. Cobalah BBTNGL sertakan kearifan lokal di dalamnya,” tegasnya.
Demikian penjelasan Sayed Zainal, seperti dilansir wartawan. Sabtu, 6 September 2025 dari Kualasimpang. LembAHtari dan KJL kembali ngatkan Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (BBTNGL); Agar terbuka dan transparan, berapa sesungguhnya lahan TNGL yang terbuka dan sudah dialihkan fungsikan secara liar menjadi kebun Kelapa Sawit ikegal dari tutupan kawasan TNGL seluas 971 hektar yang sudah terbuka di beberapa titik.




