‘Langkah di Rimba Sunyi’, Ketika Prajurit Memanggul Sejarah dan Menghidupkan Jiwa Cut Nyak Meutia
“Kami datang ke hutan ini bukan sekadar membawa pasir dan batako, tapi membawa niat untuk memuliakan sejarah.
Memugar makam Cut Nyak Meutia bagi kami adalah ibadah, bukan sekadar tugas. Setiap langkah di jalur sungai ini adalah bentuk cinta dan hormat kepada leluhur bangsa.
Kini, tugas kita bukan lagi berperang melawan penjajah, tapi melawan kelupaan—agar semangat para pahlawan tetap hidup di dada generasi yang akan datang.”
Kolonel Inf. Ali Imran, Danrem 011/Lilawangsa
DI SEBUAH LEMBAH SUNYI di pedalaman Aceh Utara, kabut pagi turun perlahan menyelimuti pepohonan tropis yang menjulang. Suara burung bersahutan di antara desir angin lembab yang membawa aroma tanah basah.
Di tengah hening itu, derap kaki terdengar pelan tapi mantap. Ratusan prajurit TNI berjalan menapak bebatuan sungai, tubuh mereka dibasuh peluh, di punggung mereka tergendong karung goni berisi pasir dan batako.
Mereka bukan sedang menyiapkan pertahanan, bukan pula hendak membangun barak. Mereka sedang memanggul sejarah.
Mereka menuju makam seorang perempuan yang pernah mengguncang dunia penjajahan dengan tekad yang lebih tajam dari senjata; Cut Nyak Meutia.




