Muhammad Irwan yang akrab disapa Wantanido ini menjelaskan sekolah yang berlokasi di Desa Banai, Kecamatan Karang Baru, Aceh Tamiang ini hampir seluruh plafon ruang kelas sudah jebol.
“Siswa terpaksa memilih belajar di luar karena udara di dalam terasa panas dan pengap. Selain itu para anak didik juga merasa takut ketimpa material plafon yaang sudah pada jebol,” jelasnya.
Sebagai tupoksi pengawasan bidang pendidikan Komisi 1 mendesak pihak eksekutif dalam hal ini Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Aceh Tamiang dapat memplotkan dana APBK untuk rehabilitasi ruang kelas SMPN 8 Karang Baru yang kondisinya sudah kupak kapik nyaris rubuh.
Menurut Politisi Gerindra ini kondisi Ruang Kegiatan Belajar (RKB) SMPN 8 Karang Baru dari kelas 1-3 terdiri dari lima kelas bagian plafonnya sudah jebol.
Tapi masih ada guru wali kelas dan murid nekat aktivitas belajar mengajar di bawah plafon yang rawan ambruk. Bahkan ditemukan lagi dua RKB yang ditempati murid kelas II sejak dibangun tahun 2015 hingga kini tanpa dilengkapi dengan plafon alias blong.
“Ternyata tidak hanya ruang kelas, perpustakaan dan ruang guru juga jebol plafonnya. Menurut keterangan pihak sekolah plafon berbahan gipsum itu ambruk sendiri pada tahun 2020,” ungkap Wantanido.




