Semua makanan tersebut kemudian dinikmati bersama masyarakat, ulama, tamu dari gampong lain, anak yatim, fakir miskin hingga musafir tanpa membedakan status sosial.
Di sinilah makna utama Khanduri Maulid terlihat. Kenduri bukan sekadar jamuan makan, melainkan simbol persaudaraan, kesetaraan, dan kepedulian sosial yang menjadi bagian dari ajaran Islam.
Lebih dari Sekadar Perayaan
Rangkaian Khanduri Maulid juga diisi dengan pembacaan selawat, zikir, meudikee, ceramah agama, hingga penyampaian kisah-kisah keteladanan Rasulullah SAW.
Tradisi ini menjadikan Maulid sebagai ruang pembelajaran agama yang melibatkan seluruh generasi, mulai dari anak-anak hingga orang tua.
Bagi masyarakat Aceh, Khanduri Maulid memiliki makna yang sangat mendalam, di antaranya:
Ungkapan rasa syukur atas kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Mempererat silaturahmi antarkeluarga, antargampong, dan antarmukim.
Menumbuhkan semangat berbagi kepada sesama.
Melestarikan adat Aceh yang berjalan selaras dengan syariat Islam.
Nilai tersebut sejalan dengan falsafah Aceh yang hingga kini tetap dijunjung tinggi:
“Adat bak Po Teumeureuhom, Hukom bak Syiah Kuala, Qanun bak Putroe Phang, Reusam bak Laksamana.”
Falsafah itu menggambarkan bahwa adat dan syariat bukanlah dua hal yang dipertentangkan, melainkan saling melengkapi dalam kehidupan masyarakat Aceh.




