Khanduri Maulid Aceh: Warisan Kesultanan yang Menyatukan Syariat, Adat, dan Persaudaraan

Semua makanan tersebut kemudian dinikmati bersama masyarakat, ulama, tamu dari gampong lain, anak yatim, fakir miskin hingga musafir tanpa membedakan status sosial.

Di sinilah makna utama Khanduri Maulid terlihat. Kenduri bukan sekadar jamuan makan, melainkan simbol persaudaraan, kesetaraan, dan kepedulian sosial yang menjadi bagian dari ajaran Islam.

BACA JUGA...  Jejak Kerajaan Linge, Cikal Bakal Peradaban Tanoh Gayo

Lebih dari Sekadar Perayaan

Rangkaian Khanduri Maulid juga diisi dengan pembacaan selawat, zikir, meudikee, ceramah agama, hingga penyampaian kisah-kisah keteladanan Rasulullah SAW.

Tradisi ini menjadikan Maulid sebagai ruang pembelajaran agama yang melibatkan seluruh generasi, mulai dari anak-anak hingga orang tua.

Bagi masyarakat Aceh, Khanduri Maulid memiliki makna yang sangat mendalam, di antaranya:

BACA JUGA...  Sejarah Kerajaan Trumon Aceh Selatan: Kehulubalangan yang Berpengaruh di Pesisir Barat Selatan Aceh

Ungkapan rasa syukur atas kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Mempererat silaturahmi antarkeluarga, antargampong, dan antarmukim.

Menumbuhkan semangat berbagi kepada sesama.

Melestarikan adat Aceh yang berjalan selaras dengan syariat Islam.

Nilai tersebut sejalan dengan falsafah Aceh yang hingga kini tetap dijunjung tinggi:

“Adat bak Po Teumeureuhom, Hukom bak Syiah Kuala, Qanun bak Putroe Phang, Reusam bak Laksamana.”

BACA JUGA...   Aliansi Aceh dan Turki Ustmaniyah Melawan Portugis di Selat Malaka

Falsafah itu menggambarkan bahwa adat dan syariat bukanlah dua hal yang dipertentangkan, melainkan saling melengkapi dalam kehidupan masyarakat Aceh.