Mediaaceh.co.id – Di tengah arus modernisasi yang terus bergerak cepat, masyarakat Aceh tetap memegang teguh sebuah tradisi yang telah diwariskan turun-temurun selama berabad-abad. Tradisi itu adalah Khanduri Maulid, sebuah perayaan kelahiran Nabi Muhammad SAW yang tidak hanya menjadi agenda keagamaan, tetapi juga mencerminkan kekuatan adat, budaya, serta semangat persaudaraan yang mengakar dalam kehidupan masyarakat Aceh.
Berbeda dengan daerah lain di Indonesia yang umumnya memperingati Maulid Nabi pada 12 Rabiul Awal atau beberapa hari setelahnya, masyarakat Aceh memiliki kekhasan tersendiri. Perayaan Maulid berlangsung hingga hampir tiga bulan, dimulai dari Maulod Awai (Rabiul Awal), Maulod Teungoh (Rabiul Akhir), hingga Maulod Akhee (Jumadil Awal).
Tradisi tersebut bukan berarti masyarakat Aceh memperingati kelahiran Rasulullah SAW sebanyak tiga kali. Pembagian waktu itu justru menjadi kearifan lokal agar setiap gampong memiliki kesempatan menyelenggarakan kenduri secara bergiliran, sehingga masyarakat dari berbagai daerah dapat saling menghadiri undangan, mempererat silaturahmi, serta memperkuat ukhuwah Islamiyah.
Warisan Sejak Era Kesultanan Aceh
Khanduri Maulid diyakini telah berkembang sejak masa Kesultanan Aceh Darussalam. Menurut keterangan Majelis Adat Aceh (MAA), tradisi ini telah dikenal sebelum masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda dan berkembang semakin luas ketika Aceh mencapai puncak kejayaannya pada awal abad ke-17.




