Pada masa itu, Kesultanan Aceh menjadikan peringatan Maulid sebagai bagian dari syiar Islam sekaligus media mempererat hubungan antara kerajaan dan rakyat. Aceh yang dikenal sebagai salah satu pusat peradaban Islam di Asia Tenggara menjadi tempat berkumpulnya ulama dari Arab, Persia, India, Turki, hingga kawasan Nusantara.
Dalam suasana itulah Khanduri Maulid tumbuh sebagai tradisi yang memadukan dakwah, pendidikan agama, dan kebersamaan sosial. Nilai-nilai tersebut terus diwariskan hingga kini dan tetap hidup dalam setiap perayaan Maulid di berbagai pelosok Aceh.
Semangat Gotong Royong yang Tetap Terjaga
Salah satu kekuatan utama Khanduri Maulid adalah budaya gotong royong yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat.
Beberapa hari sebelum pelaksanaan, warga berkumpul di meunasah untuk bermusyawarah membagi tugas. Kaum laki-laki menyiapkan lokasi, menyembelih hewan, serta memasak dalam kuali besar. Sementara kaum perempuan menyiapkan aneka hidangan khas Aceh yang nantinya disusun dalam dulang atau idang meulapeh.
Menu yang hampir selalu hadir adalah Kuah Beulangong, masakan khas Aceh berbahan daging sapi atau kambing yang dimasak bersama nangka muda menggunakan rempah-rempah tradisional. Selain itu terdapat bu kulah, kari, ayam, ikan, telur, serta beragam hidangan lainnya.




