Aliansi Aceh dan Turki Ustmaniyah Melawan Portugis di Selat Malaka

 Mediaaceh.co.id – Pada abad ke-16, Selat Malaka menjadi salah satu jalur perdagangan paling penting di dunia. Setelah Portugis menguasai Malaka pada 1511, peta politik dan perdagangan di kawasan berubah. Dalam situasi tersebut, Kesultanan Aceh Darussalam tumbuh sebagai salah satu kekuatan penting di bagian barat Nusantara dan menjalin hubungan diplomatik dengan Kesultanan Utsmaniyah yang berpusat di Istanbul.

BACA JUGA...  Sejarah Danau Laut Tawar, Jantung Kehidupan Masyarakat Gayo

Berbagai sumber sejarah menunjukkan bahwa hubungan antara Aceh dan Kesultanan Utsmaniyah telah terjalin sejak pertengahan abad ke-16. Salah satu fase penting terjadi pada masa pemerintahan Sultan Alauddin al-Qahhar (1539–1571), ketika Aceh mengirim utusan ke Istanbul untuk menjalin hubungan diplomatik serta menyampaikan permohonan bantuan dalam menghadapi situasi politik dan militer di kawasan Selat Malaka.

BACA JUGA...  Sejarah Kerajaan Trumon Aceh Selatan: Kehulubalangan yang Berpengaruh di Pesisir Barat Selatan Aceh

Sejumlah dokumen Utsmaniyah dan kajian para sejarawan menyebutkan bahwa permohonan tersebut mendapat tanggapan dari pemerintah Utsmaniyah. Setelah wafatnya Sultan Suleiman I (Suleiman al-Qanuni) pada 1566, kebijakan tersebut dilanjutkan pada masa Sultan Selim II. Dalam berbagai sumber disebutkan bahwa bantuan yang diberikan mencakup perlengkapan militer, ahli persenjataan, serta dukungan teknis, meskipun rincian mengenai jumlah personel dan besarnya bantuan berbeda-beda di antara berbagai sumber sejarah.