Pada abad ke-19, ketika meletus Perang Aceh melawan Belanda, pemerintah Kesultanan Aceh kembali berupaya menjalin komunikasi dengan Kesultanan Utsmaniyah dengan merujuk pada hubungan diplomatik yang telah terjalin sejak berabad-abad sebelumnya. Namun, situasi politik internasional pada masa itu, termasuk melemahnya posisi Kesultanan Utsmaniyah dan meningkatnya pengaruh negara-negara Eropa, membuat dukungan militer yang diharapkan tidak terwujud.
Hingga kini, hubungan antara Kesultanan Aceh Darussalam dan Kesultanan Utsmaniyah masih menjadi salah satu topik yang terus dikaji para sejarawan. Berbagai arsip diplomatik, naskah Melayu, dokumen Utsmaniyah, serta catatan Portugis memberikan gambaran mengenai dinamika hubungan kedua kekuatan tersebut, meskipun sejumlah aspek masih menjadi bahan diskusi dalam penelitian sejarah.
Kisah hubungan Aceh dan Kesultanan Utsmaniyah menunjukkan bahwa Kesultanan Aceh merupakan salah satu kerajaan di Nusantara yang aktif membangun hubungan diplomatik lintas kawasan. Jejak hubungan tersebut menjadi bagian penting dari sejarah politik, perdagangan, dan diplomasi di Asia Tenggara pada abad ke-16. Adv




