Beberapa penelitian juga menyebutkan bahwa rencana pengiriman armada dalam skala lebih besar menghadapi berbagai kendala akibat situasi politik dan militer yang sedang dihadapi Kesultanan Utsmaniyah di kawasan lain, termasuk di Jazirah Arab. Karena itu, para sejarawan masih berbeda pendapat mengenai skala sebenarnya dari bantuan yang akhirnya tiba di Aceh.
Selain aspek militer, hubungan kedua kesultanan juga mencakup pertukaran pengetahuan, perdagangan, dan diplomasi. Sejumlah kajian menyebutkan bahwa kehadiran ahli persenjataan dari wilayah Utsmaniyah turut berkontribusi terhadap perkembangan teknologi pembuatan senjata di Aceh. Dalam perkembangannya, Kesultanan Aceh dikenal memiliki kemampuan memproduksi meriam dan perlengkapan militer sendiri, meskipun perkembangan tersebut juga dipengaruhi oleh berbagai faktor lain, termasuk hubungan dagang dengan kawasan Asia dan Timur Tengah.
Hubungan antara Aceh dan Kesultanan Utsmaniyah menjadi salah satu contoh jaringan diplomasi yang menghubungkan kerajaan-kerajaan Islam di berbagai kawasan pada abad ke-16. Di sisi lain, Portugis memandang meningkatnya kekuatan Aceh sebagai salah satu tantangan dalam mempertahankan pengaruhnya di Selat Malaka, yang ketika itu menjadi pusat perdagangan internasional.
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya















