Ketika Tentara Menjaga Hutan, Bukan Sekadar Menjaga Negeri

Kolonel Infanteri Ali Imran. Danrem 011/Lilawangsa.

“Menjaga hutan bukan hanya urusan hukum. Ini urusan moral, urusan kemanusiaan.”

Kolonel Inf. Ali Imran, Danrem 011/Lilawangsa

DI TENGAH HAMPARAN HIJAU yang mulai pudar di kawasan Sikundur, Aceh Tamiang, suara deru mesin ekskavator memecah keheningan pagi. Pohon-pohon sawit ilegal, yang tumbuh di atas tanah konservasi, satu per satu tumbang.

Asap debu bercampur dengan aroma tanah basah. Namun di balik operasi represif itu, terselip sebuah kisah kemanusiaan; tentang manusia yang sedang berjuang menebus kesalahannya kepada alam. Operasi besar ini bukan semata aksi hukum. Ia adalah pernyataan moral.

BACA JUGA...  Cerita Cela Dibalik Pelayanan RSUD Muda Sedia

Dan di garda terdepan dukungan itu berdiri Komandan Korem 011/Lilawangsa, Kolonel Infanteri Ali Imran [seorang perwira yang memandang hutan bukan sekadar wilayah operasi, tetapi rumah bersama yang wajib dijaga dengan hati dan tanggung jawab].

Dari Lhokseumawe, Seruan Moral Bergema ke Tenggulun

Ketika tim Satgas Penertiban Kawasan Hutan (PKH) Garuda RI, bersama Ditjen Gakkum LHK, Balai Besar TNGL, dan aparat TNI-Polri menumbang ratusan hektar kebun sawit ilegal di Blok Tenggulun, suara Ali Imran bergema menembus barisan aparat dan masyarakat.

BACA JUGA...  Ketika Kebun Kelapa Sawit Ilegal di TNGL Mulai di ‘Gagahi’ Satgas PKH Garuda RI

“Saya wajib mendukung upaya pemerintah menertibkan pembukaan lahan ilegal di kawasan konservasi. Ini wilayah teritorial saya. Dan saya bertanggung jawab menjaga kelestariannya,” ujarnya, tegas namun bergetar oleh rasa tanggung jawab.

Baginya, langkah represif itu bukan sekadar “penertiban”, tetapi penyelamatan martabat manusia. Karena di balik batang-batang sawit yang tumbang itu, sejatinya sedang tumbuh kembali harapan [harapan untuk menyeimbangkan hubungan manusia dan alam yang lama terputus].