Ketika Tentara Menjaga Hutan, Bukan Sekadar Menjaga Negeri

Kolonel Infanteri Ali Imran. Danrem 011/Lilawangsa.

Danrem 011/Lilawangsa mengingatkan [Kalau hutan perbukitan terus dirambah, maka Aceh Tamiang akan menjadi daerah rawan bencana. Setiap tetes air yang meluap dari gunung adalah air mata alam]

Ia menegaskan bahwa menjaga TNGL dan hutan mangrove di pesisir adalah strategi pertahanan ekologis.

“Selain rumah satwa, mangrove juga penyerap air dan penahan abrasi. Kalau ini rusak, maka bencana datang dari dua arah: banjir di hulu, abrasi di hilir.”

Apresiasi untuk Para Penjaga Suara Alam

BACA JUGA...  Danrem 011/Lilawangsa Panen Raya Padi Serentak di Dataran Tinggi Gayo

Ali Imran tak lupa mengucapkan terima kasih kepada para aktivis lingkungan, komunitas lokal, dan wartawan yang terus bersuara.

“Mereka adalah mitra moral kami. Kami butuh mereka untuk mengingatkan bahwa hutan bukan soal angka hektar, tapi soal kehidupan,” ujarnya.

Ia menyadari, perjuangan menjaga hutan bukan perjuangan satu generasi, melainkan warisan nilai.

BACA JUGA...  PEMULIHAN YANG MENUNGGU KEPUTUSAN

“Kita mungkin tidak akan melihat hasilnya sekarang. Tapi anak cucu kita akan merasakan manfaatnya nanti.”

Refleksi Akhir: Hutan dan Nurani

Menjelang sore, di markas Korem 011 Lilawangsa, Ali Imran menatap peta besar wilayah Aceh Utara dan Tamiang yang tergantung di dinding. Garis-garis hijau dan biru di peta itu bukan sekadar simbol, melainkan denyut kehidupan yang sedang ia jaga.