Ketika Tentara Menjaga Hutan, Bukan Sekadar Menjaga Negeri

Kolonel Infanteri Ali Imran. Danrem 011/Lilawangsa.

Leuser: Nafas Terakhir yang Mulai Sesak

Hutan Leuser bukan sekadar kawasan hijau di peta Aceh. Ia adalah paru-paru Sumatra, rumah bagi gajah, harimau, badak, orangutan, dan ratusan spesies langka lainnya. Namun kini, sebagian jantung itu telah robek oleh kerakusan.

Sedikitnya 971 hektar kawasan konservasi TNGL di wilayah Aceh Tamiang telah dialihfungsikan menjadi perkebunan kelapa sawit secara ilegal. Lahan yang dulunya menjadi habitat alami satwa, kini hanya tersisa barisan pohon monokultur yang seragam [sunyi dari suara burung, tandus dari kehidupan].

BACA JUGA...  Ny. Musliana Sambut Istri Wapres di Stand Aceh Utara pada Acara Inacraft Oktober 2025 

“Kalau hutan di hulu habis, banjir akan menghantam rumah di hilir,” kata Danrem. “Bencana itu tidak pandang jabatan atau agama. Alam membalas sesuai perbuatan manusia.”

Ucapannya mengandung pesan spiritual yang dalam. Sebuah peringatan bahwa kerusakan alam adalah cermin rusaknya kesadaran manusia.

Tentara, Hutan, dan Nurani

Jarang publik melihat seorang perwira menengah TNI berbicara dengan nada se-lembut itu tentang hutan.

BACA JUGA...  DPP Usung Ahok, Kader PDIP Kecewa Berat

Namun Ali Imran membuktikan bahwa tentara tidak hanya bicara soal senjata dan strategi, tapi juga tentang kasih sayang pada tanah air dalam makna yang paling literal.

“Menjaga hutan bukan hanya urusan hukum. Ini urusan moral, urusan kemanusiaan,” ujarnya. “Mari kita sadarkan masyarakat bahwa hutan bukan musuh, tapi pelindung kita.”

Bagi Danrem, keterlibatan TNI bukan sekadar mendukung eksekusi, tetapi memastikan stabilitas ekologi sebagai bagian dari stabilitas nasional.