“Oleh karena itu, bagi Indonesia, adaptasi iklim bukanlah agenda pinggiran. Ini adalah pilar utama pembangunan berkelanjutan dan pengaman bagi kemakmuran nasional kita,” tegasnya.
Ia mengatakan Indonesia telah memberlakukan Rencana Adaptasi Nasional 2026–2030 sebagai peta jalan menuju Indonesia yang tangguh terhadap perubahan iklim sekaligus mendukung pencapaian Visi Indonesia Emas 2045.
Jumhur juga menekankan bahwa solusi lingkungan tidak semata-mata harus bertumpu pada teknologi dan ilmu pengetahuan modern. Kekayaan pengetahuan tradisional masyarakat, menurutnya, juga memiliki peran penting dalam menghadapi perubahan iklim.
Dalam forum tersebut, Jumhur memperkenalkan tiga praktik tradisional Indonesia yang dinilai relevan untuk memperkuat ketahanan lingkungan, yakni sistem irigasi Subak di Bali, Sasi Lompa di Maluku, dan Awig-Awig di Bali.
Subak mengintegrasikan pengelolaan air, kerja sama masyarakat, dan praktik spiritual. Sementara Sasi Lompa merupakan sistem tradisional pengelolaan perikanan berkelanjutan, sedangkan Awig-Awig merupakan sistem hukum adat yang digerakkan masyarakat.
“Praktik-praktik ini menunjukkan bahwa hidup selaras dengan alam bukan hanya warisan budaya, tetapi juga alat yang ampuh untuk adaptasi dan ketahanan iklim,” kata Jumhur.
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya















