Firnalis menolak menyalahkan Bupati Simeulue, Monas, bahkan memuji semangat sang bupati yang rela kehujanan demi menyemangati peserta karnaval. Ia menilai justru penyelenggara acara yang gagal memahami pentingnya peran media massa.
“Sekarang ini banyak yang lebih percaya posting di Facebook daripada berita di media resmi. Bahkan biaya promosi di medsos lebih besar daripada untuk media massa,” tambahnya.
Minimnya publikasi membuat kemeriahan HUT ke-26 Simeulue hanya dirasakan oleh mereka yang hadir langsung di lokasi. Tanpa dokumentasi dan pemberitaan, perayaan sebesar itu seolah menguap tanpa jejak sejarah.
“Ini acara kabupaten, bukan acara tingkat desa. Harusnya Bupati malu kalau gaungnya tak terdengar di media mana pun,” katanya.
Sepinya pemberitaan HUT Simeulue menjadi cermin lemahnya koordinasi dan penghargaan terhadap peran pers. Padahal, media massa adalah satu-satunya saluran resmi dan legal untuk menyampaikan informasi pembangunan serta kinerja pemerintah kepada publik.
Perayaan tahun ini meninggalkan pesan penting, bahwa kegiatan tanpa publikasi hanyalah pesta diam. Dan mungkin, inilah saatnya pemerintah daerah bertanya: Apakah pantas kerja keras Bupati Simeulue dibiarkan tenggelam tanpa berita hanya karena kelalaian satu dinas?.(Kadri)
Halaman : 1 2















