HAMPIR DUA BULAN PASCABANJIR, KETIKA KORBAN DIPAKSA MENGEMIS DI JALAN

Kamis, 15 Januari 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

“Bukan mau mengemis, tapi mau makan pun sudah tak tahu caranya,” ujar seorang warga dengan suara tertahan.

EMPAT puluh sembilan hari setelah banjir lumpur dan longsor menyapu Aceh Tamiang, luka itu belum juga kering. Lumpur memang mulai mengering di badan jalan, tetapi kehidupan para korban justru kian basah oleh ketidakpastian.

Agaknya, saat kendali pemulihan diambil pemerintah pusat, belum menampakkan hal signifikan. Diakui memang; pemerintah Pusat bersama daerah terus bergerak, perubahan hanya tampak di kampung kampung yang berdampingan dengan Ibukota.

BACA JUGA...  PMI Perkuat Pemulihan Air Bersih Aceh Tamiang, Bupati Armia Pahmi: Solidaritas Kemanusiaan yang Menghidupkan Harapan

Apalagi jika dikaitkan dengan janji pemulihan, sebagian penyintas kini berdiri di tepi jalan, menadahkan tangan, mengemis untuk sekadar bertahan hidup.

MENGEMIS DI NEGERI PASCABENCANA

SENIN, 12 Januari 2026 lalu. Di ruas jalan utama Kuala Simpang, pemandangan yang seharusnya tak pernah ada di daerah pascabencana itu kini menjadi kenyataan.

Beberapa warga korban banjir lumpur tampak berdiri di pinggir jalan, membawa kantong plastik dan kardus lusuh. Mereka berharap belas kasih dari pengguna jalan yang melintas.

BACA JUGA...  Abdullah Imum Terpilih Jadi Ketua MPC-PP Kota Sabang

Mereka bukan pengemis profesional. Mereka adalah korban bencana.

“Bukan mau mengemis, tapi mau makan pun sudah tak tahu caranya,” ujar seorang warga dengan suara tertahan.

Hampir dua bulan setelah bencana ekologis menerjang, kehidupan para korban masih jauh dari pulih. Bantuan yang datang dinilai terbatas, tidak berkelanjutan, dan belum menyentuh persoalan paling mendasar; hilangnya sumber penghidupan.

BACA JUGA...  TAK ADA KAMPUNG DIBIARKAN KELAPARAN

“Tsunami Darat” yang Menghancurkan Segalanya

Banjir lumpur dan longsor yang melanda Aceh Tamiang dua bulan lalu bukan banjir biasa. Arus air bercampur lumpur, kayu-kayu besar, dan material hutan menerjang permukiman dengan kekuatan brutal. Rumah-rumah ambruk, ladang hancur, warung lenyap tanpa sisa.

Berita Terkait

Pernyataan BKSDA Dinilai Timbulkan Kekesalan Masyarakat
Puskesmas Tanah Jambo Aye Gelar CKG di 30 Gampong
BPJS Kesehatan Dorong Layanan Jantung Berbasis Outcome
Banda Aceh Gencarkan Branding Kawasan Tanpa Rokok
Pasca 27 Agustus, Isu Bergeser ke Kepercayaan Institusi
PTGMI Aceh Selatan Reorganisasi Kepengurusan, Kuatkan Profesionalisme dan Integritas
PWI dan GAPKI Gelar Workshop di Yogyakarta
Masyarakat Didorong Jadi Garda Terdepan dalam Jaga Laut

Berita Terkait

Kamis, 17 September 2026 - 20:56 WIB

Pernyataan BKSDA Dinilai Timbulkan Kekesalan Masyarakat

Kamis, 17 September 2026 - 14:16 WIB

Puskesmas Tanah Jambo Aye Gelar CKG di 30 Gampong

Kamis, 17 September 2026 - 11:53 WIB

BPJS Kesehatan Dorong Layanan Jantung Berbasis Outcome

Senin, 7 September 2026 - 14:25 WIB

Banda Aceh Gencarkan Branding Kawasan Tanpa Rokok

Selasa, 1 September 2026 - 13:47 WIB

Pasca 27 Agustus, Isu Bergeser ke Kepercayaan Institusi

Berita Terbaru

Skuat Aceh Timur Di Gala Siswa Nasional (GSI) Tingkat Provinsi Aceh.

OLAHRAGA

Aceh Timur Tumbangkan Lhokseumawe di GSI Aceh 

Sabtu, 19 Sep 2026 - 21:49 WIB

Himbauan Pemerintah Kabupaten Aceh Utara.

PEMERINTAHAN

Ayah Wa Imbau Warga Waspada Bencana

Sabtu, 19 Sep 2026 - 21:33 WIB

HUKOM

KPK Usut Korupsi BPN

Jumat, 18 Sep 2026 - 17:50 WIB

Tim Gabungan mengevakuasi jenazah korban ke dalam mobil untuk diserahkan kepada pihak keluarga korban.(Foto/mediaaceh.co.id/(istimewa).

PERISTIWA

Nelayan Meukek Ditemukan Meninggal

Jumat, 18 Sep 2026 - 17:41 WIB

Pertemuan dan Silahturahmi Direksi PT BAS dengan Kapolda Aceh.

RAGAM BERITA

Direksi Bank Aceh Silaturahmi ke Kapolda

Jumat, 18 Sep 2026 - 17:29 WIB