“Bukan mau mengemis, tapi mau makan pun sudah tak tahu caranya,” ujar seorang warga dengan suara tertahan.
EMPAT puluh sembilan hari setelah banjir lumpur dan longsor menyapu Aceh Tamiang, luka itu belum juga kering. Lumpur memang mulai mengering di badan jalan, tetapi kehidupan para korban justru kian basah oleh ketidakpastian.
Agaknya, saat kendali pemulihan diambil pemerintah pusat, belum menampakkan hal signifikan. Diakui memang; pemerintah Pusat bersama daerah terus bergerak, perubahan hanya tampak di kampung kampung yang berdampingan dengan Ibukota.
Apalagi jika dikaitkan dengan janji pemulihan, sebagian penyintas kini berdiri di tepi jalan, menadahkan tangan, mengemis untuk sekadar bertahan hidup.
MENGEMIS DI NEGERI PASCABENCANA
SENIN, 12 Januari 2026 lalu. Di ruas jalan utama Kuala Simpang, pemandangan yang seharusnya tak pernah ada di daerah pascabencana itu kini menjadi kenyataan.
Beberapa warga korban banjir lumpur tampak berdiri di pinggir jalan, membawa kantong plastik dan kardus lusuh. Mereka berharap belas kasih dari pengguna jalan yang melintas.
Mereka bukan pengemis profesional. Mereka adalah korban bencana.
“Bukan mau mengemis, tapi mau makan pun sudah tak tahu caranya,” ujar seorang warga dengan suara tertahan.
Hampir dua bulan setelah bencana ekologis menerjang, kehidupan para korban masih jauh dari pulih. Bantuan yang datang dinilai terbatas, tidak berkelanjutan, dan belum menyentuh persoalan paling mendasar; hilangnya sumber penghidupan.
“Tsunami Darat” yang Menghancurkan Segalanya
Banjir lumpur dan longsor yang melanda Aceh Tamiang dua bulan lalu bukan banjir biasa. Arus air bercampur lumpur, kayu-kayu besar, dan material hutan menerjang permukiman dengan kekuatan brutal. Rumah-rumah ambruk, ladang hancur, warung lenyap tanpa sisa.





