Begitu ‘sengau’ goresan makna dilayar petak berukuran 8×10 centimeter, Mayjend Achmad Daniel Chardin.
Gumamnya di sanubari; keberhasilan anaknya bukan semata gelar, melainkan awal dari tanggung jawab besar. Tak lagi di medan tempur, tapi di medan kemanusiaan [menyembuhkan, merawat, dan mendengarkan].
Di senyapnya temaram ujian, riuhnya laboratorium dan ruang kuliah yang tak kenal waktu adalah ‘asabat’, Azizy untuk memupuk mimpinya dalam diam.
Asabat yang dahulu samar, mulai menjelma nyata. Di segenap ‘gestur’ potret diri. Menggelayut atas pundaknya tertambat asa, puluhan, ratusan bahkan ribuan orang atas hadirnya dokter muda ‘sempalan’ Mayjend Achmad Daniel Chardin. Azizy bukan hanya cerdas, tetapi sangat berempati dan rendah hati.
“Dengan penuh rasa syukur, kami persembahkan: dr. Azizy Gladylola Mastura. Di awal langkahnya menggapai asa, wujudkan bakti pada sesama.” demikian salah satu ungkapan keluarga menyambut kelulusan sang putri.
Warisan untuk Pengabdian yang Dulu Tertunda
Dalam dirinya, darah pengabdian mengalir kuat. Ayahnya seorang jenderal, terbiasa dengan disiplin dan dedikasi. Kini, Azizy memilih jalan berbeda namun sejiwa [mengabdi pada masyarakat melalui ilmu dan layanan medis].




