“Saat semua jaringan mati, kami tidak boleh ikut mati. Negara harus tetap hadir, meski hanya lewat satu suara radio. Saya tidak akan meninggalkan Aceh Tamiang dalam kondisi apa pun.”
[Irjen Pol (P) Drs. Armia Pahmi, MH., Bupati Aceh Tamiang]
- Armia Pahmi Menyusuri Aceh Tamiang yang Retak oleh Bencana Ekologis
AIR COKELAT itu datang membawa lebih dari sekadar banjir. Ia menyeret batang kayu dari hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) Tamiang, memuntahkannya ke pemukiman warga, merobohkan rumah, jembatan, dan harapan yang selama ini menopang kehidupan masyarakat Aceh Tamiang.
Dalam hitungan jam pada 26 November 2025, 12 kecamatan dan 209 kampung berubah menjadi peta luka.
Di tengah kepungan air dan lumpuhnya hampir seluruh sendi kehidupan, satu pertanyaan berulang kali terdengar di ruang publik: di mana pemimpin daerah?
Jawabannya justru ditemukan di medan paling sunyi dan berbahaya.
Irjen Pol (P) Drs. Armia Pahmi, MH., Bupati Aceh Tamiang, tidak pergi. Ia bertahan, bergerak, dan menyusuri wilayah yang terputus, bersama Kepala Pelaksana BPBD Aceh Tamiang, Iman Suhery, SSTP, MSP., serta jajaran lintas sektor—Dandim, Kadis PUPR, Kabag Tapem, Kabag Humas, hingga Camat Sekerak.
Bukan kunjungan simbolik. Bukan pula perjalanan seremonial. Ini adalah kerja lapangan dalam kondisi darurat total.




