OPINI  

Di Bawah Bayang Disrupsi Digital, Pers Tetap Menjadi Ruang Verifikasi Publik

Perbedaan ini penting ditegaskan agar publik tidak mengalami kebingungan antara informasi jurnalistik dan konten komunikasi institusional.
Di sisi lain, SPS sejalan dengan pandangan Yosef Ketua Dewan Pers 2016-2019, bahwa media pers tidak perlu terjebak dalam perlombaan algoritma media sosial semata. Pers tidak dibangun untuk menjadi mesin viralitas atau sekadar pemburu trafik. Pers dibangun untuk menjadi referensi publik yang terpercaya.

BACA JUGA...  Pengurus PWI Sabang Kecam Sikap Oknum DPRK Banda Aceh Yang Mengusir Wartawan

Pengalaman global menunjukkan bahwa media yang bertahan bukan selalu media yang paling cepat, melainkan media yang paling dipercaya. Kredibilitas menjadi aset utama industri pers di tengah banjir informasi dan disinformasi digital.

Ketika semua pihak memiliki medianya sendiri, baik pemerintah, korporasi, platform digital, maupun influencer, maka fungsi pers justru menjadi semakin strategis sebagai clearing house informasi publik. Pers harus hadir untuk memverifikasi klaim, memberi konteks, menghadirkan perspektif yang berimbang, dan menjaga ruang publik tetap rasional.

BACA JUGA...  Bertemu Pengurus SPS, Budi Arie Tegaskan Dukung Ekosistem Pers yang Sehat

Karenanya, SPS perlu mendorong agenda strategis bagi masa depan ekosistem media nasional.
Pertama, SPS perlu mengusulkan kerangka nasional “Press vs Owned Media Distinction”, yakni pemisahan tegas antara pers jurnalistik, media institusi, dan komunikasi influencer digital.