Oleh: Maya Puspitasari, S.Pd.I, CGP3_ SMP Negeri 3 Pante Bidari Kabupaten Aceh Timur.
Istilah coaching sering kita dengarkan dalam kegiatan pendidikan dan pelatihan. Tak jarang coaching juga disandingkan dengan dua kata berikutnya yaitu, conseling dan mentoring. Ketiganya kerap dimaknai sama, memiliki tujuan yang sama akan tetapi jika ditelusuri lebih dalam maka akan didapati perbedaan ketiganya. Beruntungnya beberapa guru mengambil kesempatan untuk menjadi bagian dari program merdeka belajar episode 5 yang diluncurkan oleh kemendikbud, yaitu Calon Guru Penggerak (CGP). Para CGP yang terpilih dibekali dengan Program Pendidikan Guru Penggerak (PPGP) selama 9 bulan, di mana pendidikan tersebut bermuatan 3 paket modul. Salah satu di antaranya adalah modul 2.3 yaitu tentang coaching. Keterampilan coaching ini disajikan sebagai bentuk pendekatan komunikasi sebagai seorang pendidik. Mengapa keterampilan coaching? Pendekatan coaching dalam komunikasi diperlukan karena kita melihat para peserta didik kita sebagai sosok merdeka. Sosok yang dapat menentukan arah dan tujuan pembelajarannya, serta meningkatkan potensinya sendiri. Kita sebgai pendidik hanya perlu memotivasi dan mendorong peserta didik untuk menemukansolusi terbaik bagi dirinya. Tentu saja ini tidak semudah membalikkan telapak tangan, butuh berproses, butuh kesabaran dalam menikmati setiap momentnya.
Menurut Grant, coaching adalah sebuah proses kolaborasi yang berfokus pada solusi, berorientasi pada hasil dan sistematis, di mana coach memfasilitasi peningkatan atas performa kerja, pengalaman hidup, pembelajaran diri, dan pertumbuhan pribadi dari coachee. Sedangkan Whitmore, coaching adalah kunci pembuka potensi seseorang untuk memaksimalkan kinerjanya, membantu seseorang untuk belajar dari pada mengajarinya. Selain itu, International Coach Federation (ICF) mendefinisikan coaching sebagai bentuk kemitraan bersama klien (coachee) untuk memaksimalkan potensi pribadi dan profesional yang dimilikinya melalui proses yang menstimulasi dan mengeksplorasi pemikiran dan proses kreatif. Dari beberapa pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwasanya coaching adalah sebuah proses pendampingan untuk menuntun seseorang mengeksplor dirinya dalam menentukan pilihan-pilihan terbaik baginya dalam mengatasi sebuah permasalahan. Dalam proses menuntun tentu ada rambu-rambu yang perlu diindahkan agar kegiatan coaching ini memberi kesan bermakna bagi coachee. Karena pada dasarnya prinsip coaching adalah Seni BMM (Bertanya, Mendengarkan, dan Menangkap kata kunci). Oleh karenanya ada hal-hal yang perlu diperhatikan, di anataranya: komunikasi asertif, pendengar aktif, bertanya efektif, dan umpan balik positif.
Komunikasi Asertif adalah kemampuan untuk menyampaikan apa yang diinginkan, dirasakan, dan dipikirkan kepada orang lain namun dengan tetap menjaga dan menghargai hak-hak serta perasaan pihak lain tanpa bermaksud menyerang orang lain. Dengan kata lain, komunikasi asertif adalah komunikasi yang memberi kesempatan seseorang untuk berani berbicara dengan tegas dalam menyampaikan aspirasinya tanpa menyinggung perasaan siapapun. Pendengar aktif berarti mendengarkan dengan penuh perhatian terhadap apa yang dikatakan oleh pembicara atau lawan bicara. Tujuannya adalah untuk meningkatkan saling pengertian dan memungkinkan orang untuk menarik informasi yang tidak diungkapkan secara eksplisit melalui ucapan. Ini dilakukan dengan mengamati dan mengajukan pertanyaan secara memadai. Di sini juga diharapkan kehadiran jiwa kita secara utuh dalam mendengarkan (mindfulness) atau fokus pada pembicara. Bertanya efektif sama halnya dengan menggali informasi mendalam dari seseorang tentang permasalahan yang ia hadapi, dengan tidak melakukan interupsi. Kemudian memberi umpan balik positif atas usaha yang telah dikemukakan oleh coachee untuk membangun potensi yang ada padanya serta menginspirasi coachee untuk berkarya.
Terkait pola pendekatan dalam melakukan aktivitas coaching dalam pendidikan, sangat dianjurkan menggunakan model TIRTA. Sebagaimana TIRTA dikembangkan dari salah satu model coaching yang dikenal sangat luas dan telah diaplikasikan, yaitu GROW model (Goal, Reality, Options dan Will). Pada tahap Goal: tujuan, coach perlu mengetahui tujuan yang hendak dicapai coachee dari sesi coaching ini. Reality: hal-hal yang nyata, proses menggali berbagai informasi yang terjadi pada diri coachee, Option: pilihan, coach membantu coachee dalam memilah dan memilih hasil pemikiran selama sesi yang nantinya akan dijadikan sebuah rancangan aksi. Will: keinginan untuk maju, komitemen coachee dalam membuat sebuah rencana aksi dan menjalankannya. Dari penjabaran tersebut dapat disimpulkan bahwa TIRTA adalah Tujuan, Indentifikasi masalah, Rencana aksi, TAnggung jawab. Model TIRTA dikembangkan dengan semangat merdeka belajar yang menuntut guru untuk memiliki keterampilan coaching. Hal ini penting mengingat tujuan coaching yaitu untuk melejitkan potensi peserta didik agar menjadi lebih merdeka. Melalui model TIRTA ini guru diharapkan dapat melakukan praktek coaching di komunitas sekolah dengan mudah. Sebagaimana TIRTA bermakna air, air yang mengalir dari hulu ke hilir. Jika diibaratkan air itu adalah peserta didik, maka biarkan peserta didik merdeka, menentukan sendiri arah aliran potensinya, guru hanya menjaga aliran tersebut agar tidak tersumbat. Hal ini sesuai dengan tujuan pendidikan Ki Hadjar Dewantara yaitu menuntun tumbuhnya atau hidupnya kekuatan kodrat anak sehingga dapat memperbaiki lakunya. Oleh sebab itu peran seorang coach (pendidik) adalah menuntun segala kekuatan kodrat (potensi) anak agar mencapai keselamatan dan kebahagiaan sebagai manusia maupun anggota masyarakat.[]




