Kondisi ini tentu saja tidak dapat dibiarkan begitu saja dan bila hanya penanganan secara parsial tentu tidak akan selesai namun tangga saja, tapi berdampak buruk bagi pendapatan warga yang umumnya petani. Tanaman sawit yang terendam maka bunganya busuk dan menjadi tidak produktif.
Demikian juga tanaman lainnya akan mati warga harus menunggu empat bulan ke depan untuk panen Kembali. Selanjutnya dalam masa menunggu tersebut kebanyakan warga banting stir. jadi tukang bangunan, dan kerja-kerja pada sektor non formal lainnya.
Pada era tahun 80-an hingga 90- an, kami sangat jarang atau sama sekali tidak mendengar dan melihat adanya bencana banjir di wilayah Trumon.
Bisa dipastikan, waktu itu tutupan lahan masih tinggi dan sangat luas sehingga menjadi “gabus” pada areal yang bisa menampung berapapun jumlah kubikasi air yang datang. Pada musim kemarau, gabus alam itu masih menyediakan air. Begitulah siklus alam yang saling mendukung. Kini, fungsi itu, tidak ada lagi. Kini, cerita alam bersahabat dengan kita atau sebaliknya, sudah sirna.
Tetapi, masih ada jalan untuk menyelamatkan dan mengembalikan fungsi hutan di Trumon Raya yang masih tersisa.
Kembali ke cerita banjir yang menerpa beberapa gampong seperti Gampong Seneubok Pusaka, Lhok Raya, Cot Bayu dan Padang Harapan yang merupakan eks Unit Pemukiman Transmigrasi (UPT) yang telah menjadi desa definitif.




