Lambatnya pertumbuhan dan perkembangan pusat industri, belum berminat pemodal berinvestasi di Aceh. Masih banyak masalah internal yang belum selesai seperti sektor jasa, pelayanan, kepastian hukum, keamanan dan lainnya.
Berbagai masalah tersebut sepertinya belum diselesaikan dengan tuntas dari hulu ke hilir, termasuk reformasi birokrasi. Lambatnya penyelesaian tersebut, banyak para investor yang datang urung berinvestasi di Aceh.
Akhirnya pemerintah Aceh memutuskan untuk melakukani kunjungan, lawatan berbagai negara dengan nama mencari Investor.
Lawatan dan kunjungan yang dilakukan oleh pemerintah Aceh sejak pemerintahan Irwandi pertama hingga pemerintahan Nova Iriansyah sekarang ini, belum ada satupun yang mampu menyakini para investor untuk menanamkan modalnya di Aceh, kecuali Uni Emirat Arab, itupun ada peran pemerintah pusat (Presiden Jokowi dan Pak Luhut Menko Maritim) Uni Emirat Arab (UEA) merespon dan serius investasi sektor parawisata di Pulau Banyak.
Lawatan ke Belanda, Turki, India, Jepang, Singapura, Eropa dan berbagai negara lainnya, sepertinya tidak ada realisasi, respon dari para investor. Sepertinya kunjungan Pemerintah Aceh, terus gagal mencari investor, biarpun miliyaran anggaran dihabsikan, namun tak ada hasil apapun, sepertinya tim lemah dalam lobi, stafsus bidang investasi tak mampu, tak berdaya menyakinkan para investor, sudah sangat wajar publik Aceh sorot kunjungan pemerintah Aceh berserta pejabatnya terkesan bertamasya berkedok mencari investor.





