Bungong Ue, Jejak Budaya Pesisir Sabang yang Terpatri dalam Sehelai Kain Tradisional

Minggu, 24 Mei 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

SABANG (MA) – Sabang tidak hanya dikenal melalui pesona laut biru, pantai eksotis, dan keindahan bawah lautnya. Di balik popularitas Pulau Weh sebagai destinasi wisata bahari, tersimpan pula kekayaan budaya yang menjadi identitas masyarakat setempat. Salah satunya adalah kain khas bermotif Bungong Ue, sebuah wastra tradisional yang sarat nilai filosofis dan merefleksikan kehidupan masyarakat pesisir Sabang.

BACA JUGA...  Bangun Kota Sabang, Wali Kota Ajak Semua Pihak Menjaga BPKS

Motif Bungong Ue atau yang berarti bunga kelapa lahir dari kedekatan masyarakat Sabang dengan alam sekitarnya. Pohon kelapa dipilih sebagai inspirasi utama karena dianggap sebagai tanaman yang memiliki manfaat hampir di setiap bagiannya, mulai dari akar hingga buah. Filosofi inilah yang kemudian diterjemahkan ke dalam motif kain sebagai simbol kebermanfaatan, ketangguhan, dan keberlanjutan hidup.

BACA JUGA...  Serahkan Bibit dan Pupuk, Gubernur Puji LPMA di Nisam

Secara visual, motif Bungong Ue tampil melalui pola geometris menyerupai bunga kelapa yang sedang mekar. Bentuk tersebut melambangkan harapan, pertumbuhan, serta semangat untuk terus berkembang. Tak sekadar menghadirkan keindahan, setiap detail motif mengandung pesan budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Salah satu ciri khas yang menonjol pada kain Bungong Ue adalah dominasi bentuk lingkaran pada motif utamanya. Dalam filosofi masyarakat Aceh, lingkaran melambangkan persatuan, keutuhan, dan kebersamaan. Nilai ini mencerminkan kehidupan masyarakat Sabang yang hidup harmonis dalam keberagaman serta menjunjung tinggi semangat gotong royong.

BACA JUGA...  Gampong Ulee Lheue Masuk 50 Besar Anugerah Desa Wisata Indonesia 2022

Berita Terkait

23 Warisan Budaya Aceh di Tingkat Nasional, Kekayaan yang Tak Boleh Hilang
Seudati: Seni Gerak, Syair, dan Kekompakan yang Tak Lekang Zaman
Seni di Balik Kupiah Meukeutop, dari Busana Adat hingga Simbol Aceh
Pinto Aceh: Sebuah Motif, Sebuah Karya, Sebuah Identitas
Rencong: Ketika Sebilah Senjata Menjadi Karya Seni dan Identitas Aceh
Si Dalupa, Teater Bertopeng Aceh Barat yang Tetap Hidup di Tengah Zaman
Menjaga Gegedem Tetap Bertalu, Merawat Ingatan Budaya Tanah Gayo
Rapai Geurimpheng, Seni Tradisi Aceh yang Menyatukan Bunyi, Gerak dan Syair

Berita Terkait

Minggu, 30 Agustus 2026 - 22:17 WIB

23 Warisan Budaya Aceh di Tingkat Nasional, Kekayaan yang Tak Boleh Hilang

Minggu, 30 Agustus 2026 - 16:06 WIB

Seudati: Seni Gerak, Syair, dan Kekompakan yang Tak Lekang Zaman

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 23:01 WIB

Seni di Balik Kupiah Meukeutop, dari Busana Adat hingga Simbol Aceh

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 14:57 WIB

Pinto Aceh: Sebuah Motif, Sebuah Karya, Sebuah Identitas

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 00:53 WIB

Rencong: Ketika Sebilah Senjata Menjadi Karya Seni dan Identitas Aceh

Berita Terbaru

RAGAM BERITA

Firdaus Diberhentikan dari Anggota PWI

Rabu, 28 Okt 2026 - 16:33 WIB

Wakil bupati Aceh Utara Tarmizi Panyang saat mengikuti pertemuan pemetaan wilayah banjir dan longsor bersama BPBD Aceh Utara.

PEMERINTAHAN

BPBD Petakan Wilayah Rawan Banjir dan Longsor Aceh Utara

Selasa, 27 Okt 2026 - 19:06 WIB

Bupati Aceh Utara H. Ismail A Jalil, SE., MM

PEMERINTAHAN

Bibit Siklon 98B Ancam Hujan Ekstrem, Ayah Wa Minta Warga Siaga

Selasa, 27 Okt 2026 - 12:31 WIB