Oleh: Nazari “Keklot” Syam
HEBOH!!! gara-gara film dokumenter “Pesta Babi” karya Dandhy Laksono dan Cypri Paju Dale. Bukan kecelakaan judul, tetapi adalah jebakan kesadaran.
Film berdurasi pendek itu, satu sisi merujuk pada ritual sakral suku Muyu yang menghidupkan perdamaian, di sisi lain ia memaksa kita menatap pesta yang sesungguhnya: pesta perebutan tanah, hutan, dan masa depan masyarakat adat Papua Selatan.
Dan, cermin itu mulai retak ketika pesta itu ternyata tidak mengundang tuan rumahnya sendiri.
Film ini menampilkan secara santun dan apik kehidupan masyarakat adat di pedalaman Papua Selatan. Ia tidak berteriak, ia hanya menunjukkan.
Hutan sagu yang berdiri gagah sejak ratusan tahun, tiba-tiba menjadi peta blok konsesi. Sungai yang jadi dapur kehidupan berubah jadi batas proyek.
Perubahan itu datang dengan stempel “pembangunan” dan pengawalan berseragam. Yang disebut kemajuan, terasa seperti pengusiran halus yang dibungkus bahasa modernisasi investasi.
Di sinilah, retaknya mulai terlihat. Kekuasaan yang seharusnya menjaga ruang hidup warganya, justru menjadi penjaga gerbong modal.
Masyarakat adat diposisikan sebagai penonton di tanahnya sendiri, diberi janji pekerjaan kasar sementara sumber hidup dan budaya mereka dicabut dari akar-akarnya.




