OPINI  

Pesta Babi: Cermin Kekuasaan yang Retak

Penulis: Nazari "Keklot" Syam (Praktisi Pemerintahan).

Pesta tampak  berjalan meriah, tapi di luar pagar, ada yang kehilangan segala-galanya.

Babi, dalam masyarakat adat suku tertentu adalah simbol kemakmuran dan kekuatan. Tapi, “Pesta Babi”  memberi pesan lain yang menyentuh perasaan setiap orang yang menontonnya.

Lewat sindiran metafora yang vulgar, film ini seperti berbisik: sebuah konspirasi kekuasaan sedang berpesta di atas tanah rakyat, sementara masyarakat adat yang kehilangan harapan hanya bisa menatap dari luar pagar.

BACA JUGA...  Mewarisi Nilai Ibadah dalam Merayakan Kemerdekaan 

Hal yang paling menusuk adalah, cara film ini  menghadirkan adegannya. Membiarkan wajah-wajah tua masyarakat adat berbicara sendiri. Tanpa narasi berlebihan, kebingungan dan kesedihan mereka cukup untuk menelanjangi klaim “demi kesejahteraan rakyat”.

Ternyata oh…ternyata, kesejahteraan itu punya alamat, dan alamat itu jauh dari gubuk tempat mereka tinggal.

Sementara itu, pembubaran nonton bareng (nobar) di beberapa kampus jadi bukti bahwa retakan itu nyata.

BACA JUGA...  Memaknai Filsafat Dalam Ajaran Islam

Ketika sebuah film dokumenter dianggap lebih berbahaya dari proyek yang menggusur hutan. Kita tahu siapa yang takut dibongkar. Larangan tidak mematikan diskusi, ia justru membuat publik bertanya: apa yang sedang disembunyikan sehingga tidak boleh ditonton?

Kekuatan cerita “Pesta Babi”,  bukan pada data teknisnya, tapi pada kejujurannya. Ia menolak basa-basi pembangunan yang selalu berakhir pada angka pertumbuhan dan foto seremonial. Ia mengembalikan pertanyaan dasar: pembangunan untuk siapa, dan dengan mengorbankan siapa? Jawaban itu tidak nyaman, tapi itulah sebabnya, maka dia  penting.