ACEH TAMIANG YANG RETAK DAN MEREKA YANG MEMILIH HADIR

Ridwan Husny dan pengungsi

“Kami hadir untuk meringankan beban para korban terdampak bencana maha dahsyat yang melanda Aceh. Ini bukti bahwa kami bersama mereka yang bertahan hidup di tenda-tenda darurat dan posko pengungsian.”

[Ir. Ridwan Husny. Perwakilan PT Bahari Lestari Group & CV Akila]

  • Kisah PT Bahari Lestari Group & CV Akila Menjahit Harapan di Tengah Luka Aceh Tamiang
BACA JUGA...  Khitmadkan Milad GAM ke 46, KPA Doa di Lima Titik

HARI-HARI setelah bencana Ekologi Meteorologi menghantam Aceh Tamiang, kabupaten di ujung timur Aceh itu seperti kehilangan denyut nadinya.

Air bah bercampur lumpur kecokelatan dan log kayu datang bukan sebagai peringatan, melainkan vonis.

Dalam hitungan jam pada 26 November 2025, rumah-rumah tumbang, jalan terputus, kampung tenggelam, dan nyawa-nyawa melayang tanpa sempat berpamitan.

BACA JUGA...  MENGEJAR NORMALITAS DI TENGAH LUMPUR

Selama hampir sepuluh hari [dari 26 November hingga 5 Desember] Kualasimpang, ibu kota kabupaten yang biasanya ramai, berubah menjadi kota sunyi. Warga menyebutnya “bak kota tak berpenghuni”.

Bukan karena cerita fiksi, melainkan karena ribuan manusia berjalan tertatih, tubuh berlumur lumpur, mata kosong, mencari air, mencari makanan, dan mencari tanda-tanda bahwa hidup masih mungkin dilanjutkan.

BACA JUGA...  Pendataan Tahap III Dibuka, Pemkab Aceh Tamiang Kejar Validasi Korban Bencana

Listrik padam. Jaringan komunikasi runtuh. Rumah sakit tak berfungsi optimal. Pemerintahan lumpuh oleh keterbatasan.