Pante Bidari Gelap, Warga Bertahan Lapar

Selasa, 2 Desember 2025

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Anwar (45) bertahan di atap rumah tetangga selama banjir besar melanda Pante Bidari, Aceh Timur, menunggu air surut dan menyelamatkan diri dari arus deras, 27 November 2025. Foto: Ist

Anwar (45) bertahan di atap rumah tetangga selama banjir besar melanda Pante Bidari, Aceh Timur, menunggu air surut dan menyelamatkan diri dari arus deras, 27 November 2025. Foto: Ist

LHOKNIBONG (MA) – Banjir besar yang menghantam Kecamatan Pante Bidari sejak 25 November 2025 masih meninggalkan trauma mendalam bagi ribuan warga. Air setinggi empat meter yang datang dari hulu Sungai Arakundo menerjang tanpa memberi ruang bagi warga untuk bersiap. Rumah-rumah hanyut, akses putus, dan desa-desa terisolasi hingga air mulai surut pada 29 November.

Di antara ribuan cerita pilu itu, kisah Anwar (45) menggambarkan betapa dahsyatnya bencana kali ini. Saat banjir datang, rumahnya hanyut dibawa arus deras. Ia hanya bisa menyelamatkan diri dengan memanjat atap rumah tetangga dan bertahan berhari-hari, menunggu air surut. “Kalau bukan karena Allah menolong malam itu, saya mungkin sudah hanyut bersama rumah,” ucapnya lirih saat ditemui media ini, Senin (1/12/2025).

BACA JUGA...  Ketika Tambang Tak Lagi Membawa Berkah

Kini, setelah banjir surut, kampung Anwar masih gelap gulita. Listrik belum menyala, sehingga seluruh aktivitas warga terganggu. Untuk memenuhi kebutuhan penerangan dan mengisi ponsel atau peralatan listrik, Anwar terpaksa mencari listrik ke Kota Panton Labu, Aceh Utara, bersama warga lainnya. Malam di kampungnya seperti mati, gelap dan sepi, sementara kebutuhan mendesak terus menumpuk.

BACA JUGA...  Usman Lamreung: Partai atau Egosentris Syahwat Politik Pemenuhan Kekuasaan?

Banjir tidak hanya menghancurkan rumah, tetapi juga menyisakan kelaparan. Bantuan yang datang minim: tiga sak beras per desa, membuat setiap kepala keluarga hanya menerima segenggam beras. Warga pun harus menahan lapar, terutama anak-anak. Harga barang meningkat drastis: telur Rp75 ribu per papan, Indomie Rp125 ribu per kardus, beras Rp320 ribu per sak, dan air mineral Rp7 ribu per botol, dengan stok sangat terbatas. Air bersih menjadi kebutuhan paling mendesak.

BACA JUGA...  Ketika Pemimpin Menunduk, Rakyat Merasa Dilihat

“Air bersih dan logistik adalah yang paling kami harapkan saat ini. Anak-anak menangis karena haus, sementara rumah kami rata dengan tanah,” kata Anwar.

Banjir mungkin sudah surut, tapi penderitaan warga Pante Bidari belum berakhir. Gelap, lapar, dan haus masih menyelimuti mereka. Warga menunggu uluran tangan agar bisa kembali hidup layak dan membangun kembali kampung yang hilang ditelan banjir. (MTU)

Berita Terkait

Media dan Hulu Migas, Perkuat Pemahaman Energi
MedcoEnergi, Produksi Naik, Proyek Terus Bergerak
Somasi Bang Agam, Minta DPRK Buka Persoalan Kepala Sekolah
Tiga Hari Yang Menguji Diri
Hardikda Ke-67, Armia Dorong Penguatan Mutu Pendidikan
Dari Bantuan Darurat ke Ekonomi Mandiri
Air yang Datang, Sawah yang Kembali Berharap
Lilawangsa Run 2026: Berlari Merawat Asa, Memulihkan Luka Pascabencana

Berita Terkait

Sabtu, 12 September 2026 - 19:56 WIB

Media dan Hulu Migas, Perkuat Pemahaman Energi

Rabu, 9 September 2026 - 18:16 WIB

MedcoEnergi, Produksi Naik, Proyek Terus Bergerak

Jumat, 4 September 2026 - 09:45 WIB

Somasi Bang Agam, Minta DPRK Buka Persoalan Kepala Sekolah

Kamis, 3 September 2026 - 13:44 WIB

Tiga Hari Yang Menguji Diri

Kamis, 3 September 2026 - 10:34 WIB

Hardikda Ke-67, Armia Dorong Penguatan Mutu Pendidikan

Berita Terbaru

PEMERINTAHAN

Tantawi Komit Perjuangkan Guru Honorer Madrasah Swasta 

Selasa, 15 Sep 2026 - 13:10 WIB

PEMERINTAHAN

APEL Adu Dugaan Maladministrasi ke Ombudsman

Senin, 14 Sep 2026 - 17:32 WIB