“Kami bertekad mempercepat pembangunan jalan lintas penghubung Aceh Tamiang–Gayo Lues. Ini bukan sekadar infrastruktur, tapi urat nadi ekonomi masyarakat.”
[Irjen Pol (P) Drs. Armia Pahmi, MH Bupati Aceh Tamiang].
DI BALIK KABUT pagi yang menggantung di perbukitan Lesten, gema sebuah harapan baru terdengar dari Aula Bappeda Aceh Tamiang.
Di sana, dua kepala daerah [Bupati Aceh Tamiang Irjen Pol (P) Drs. Armia Pahmi, MH, dan Bupati Gayo Lues Suhaidi, S.Pd, M.Si] berjabat tangan menandatangani selembar kertas yang bagi banyak warga di hulu, berarti lebih dari sekadar Memorandum of Understanding (MoU).
Itu adalah janji untuk membuka isolasi, menembus sunyi, dan menghubungkan dua kabupaten yang telah lama terpisah jarak dan topografi.
Janji di Antara Dua Hulu
Di ruang yang sederhana tapi penuh makna itu, Armia Pahmi berbicara tenang. “Kami bertekad mempercepat pembangunan jalan lintas penghubung Aceh Tamiang–Gayo Lues. Ini bagian dari misi kami untuk mewujudkan infrastruktur yang terintegrasi,” ujarnya.
Kalimat itu disambut tepuk tangan kecil dari para hadirin, suara yang mungkin tak akan terdengar sejauh Lesten, tapi maknanya menembus bukit dan lembah.
Jalan Lesten–Pulau Tiga bukan sekadar proyek 18 hingga 21 kilometer. Ia adalah urat nadi ekonomi yang terputus selama puluhan tahun.




