Bagi Suhaidi, proyek ini bukan hanya soal konektivitas, tetapi juga tentang rasa keadilan. Ia berharap pembangunan ini akan memutar roda fiskal, membuka akses pendidikan dan kesehatan, serta memberi peluang baru bagi generasi muda Gayo Lues.
Lesten: Jalan ke Harapan
Lesten, sebuah wilayah yang selama ini seperti tersembunyi di antara kabut dan waktu, menjadi simbol dari apa yang selama ini disebut “daerah tertinggal”.
Warga di sana tahu bahwa satu-satunya cara keluar dari ketertinggalan adalah jalan yang layak. Bukan hanya bagi kendaraan, tetapi bagi masa depan mereka.
“Kalau jalan itu jadi, kami tidak perlu lagi menunggu truk berhari-hari untuk membawa hasil kopi atau sayur ke pasar,” kata seorang warga di Lesten saat ditemui tim dari Prokopim. “Kami ingin rasakan yang sama seperti orang di hilir, akses yang mudah, sekolah yang dekat, dan harga barang yang wajar.”
Pernyataan sederhana itu mencerminkan realitas yang telah lama terpendam. Bahwa pembangunan yang tidak merata melahirkan jurang ekonomi dan sosial yang dalam di antara hulu dan hilir Aceh Tamiang.
Kolaborasi Dua Daerah
Kesepakatan antara dua bupati itu tidak berdiri sendiri. Pemerintah Aceh juga memberi dukungan, menyadari bahwa pembangunan lintas daerah seperti ini adalah kunci pemerataan.




