Lhokseumawe (MA) – Berdasarkan rilis dari Badan Pusat Statistik (BPS) pada 1 Maret 2021, Kota Lhokseumawe pada bulan Februari 2021 tercatat mengalami deflasi atau penurunan harga barang dan jasa secara umum sebesar -0.70% (month to month / mtm). Nilai tersebut lebih rendah dibandingkan bulan Januari 2021 yang mengalami inflasi sebesar 0,80% (mtm).
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Cabang Lhokseumawe Yukon Afrinaldo dalam keterangan tertulis, Selasa (23/3/2021) mengatakan, jika dibandingkan dengan 2 kota lainnya yang menjadi perhitungan inflasi di Provinsi Aceh, Inflasi Kota Lhokseumawe pada bulan Februari 2021 lebih tinggi dibandingkan Kota Meulaboh yang tercatat deflasi sebesar -0,95% dan lebih rendah dibandingkan Kota Banda Aceh yang tercatat deflasi sebesar -0,56% (mtm).
“Secara keseluruhan, Provinsi Aceh mengalami deflasi sebesar -0,65% (mtm), nilai ini membaik dibandingkan bulan sebelumnya yang mengalami inflasi sebesar sebesar 0,79% (mtm). Secara nasional, pada bulan Februari 2020 terjadi inflasi sebesar 0,10% (mtm),” katanya.
Kemudian ia mengatakan, berdasarkan perkembangan tersebut maka inflasi tahunan Kota Lhokseumawe pada Februari 2021 mencapai 3,06% (year on year/yoy) atau masih dalam rentang sasaran inflasi Pemerintah tahun 2021 sebesar 3,0% ±1% (yoy).
Selanjutnya ia menjelaskan, adapun Deflasi Kota Lhokseumawe pada bulan Februari 2021 bersumber dari penurunan harga pada kelompok pengeluaran yaitu: kelompok makanan, minuman, dan tembakau dengan andil -0,91
Lima komoditas yang mengalami penurunan harga dan memberikan andil deflasi terbesar di Kota Lhokseumawe adalah Ikan Tongkol (andil: -0,27%), Ikan Dencis (-0,16%), Ikan Kembung (-0,10%), Daging Ayam Ras (-0,09%), dan Angkutan Udara (-0,09%). Hal ini terutama didorong oleh pasokan ikan laut yang mulai kembali membaik dan cenderung melimpah dikarenakan aktivitas melaut nelayan yang telah kembali normal.
“Untuk komoditas cabai dan bawang merah mengalami penurunan dikarenakan stok yang stabil yang berasal dari berbagai daerah. Selanjutnya penurunan tarif angkutan udara disebabkan oleh telah berlalunya peak season akhir tahun yang membuat harga tiket pesawat kembali normal,” ujarnya
Dirinya juga menyebutkan, di sisi lain, terdapat beberapa komoditas yang mengalami peningkatan harga dan memberikan andil inflasi diantaranya Sepeda Motor (andil: 0,06%), Ikan Bandeng (0,06%), Tukang Bukan Mandor (0,05%), Jeruk Nipis (0,05), dan Celana Panjang Jeans Pria (0,03%). peningkatan harga disumbang oleh sepeda motor dan kelompok pakaian serta alas kaki menyesuaikan dengan kenaikan harga pokok produksi.
Selain itu harga ikan bandeng dari tambak masyarakat meningkat karena pasokan yang berkurang akibat cuaca yang kurang baik. Adapun upah tukang bukan mandor meningkat mengikuti peningkatan konsumsi rumah tangga.
“Kantor Perwakilan Bank Indonesia Lhokseumawe terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah dalam forum Tim Pengendalian Inflasi Daerah untuk pencapaian inflasi yang rendah dan stabil. Pengendalian inflasi dilakukan dengan menjaga 4 aspek yaitu Ketersediaan Barang, Keterjangkauan Harga, Kelancaran Distribusi dan Komunikasi yang Efektif,” pungkasnya. (Mulyadi).




