Dilengkapi dengan peralatan medis berstandar nasional dan internasional, rumah sakit ini ditargetkan menjadi pusat rujukan kesehatan utama di Aceh dan wilayah barat Indonesia.
Wali Nanggroe menyebut pendirian RSU Putri Bidadari sebagai investasi kemanusiaan yang tumbuh dari kepekaan sosial dan kepedulian pengusaha Aceh terhadap kesejahteraan rakyat.
“Investasi di Aceh tidak hanya tentang energi atau infrastruktur. Lebih dari itu, kita ingin mendorong investasi yang menyentuh langsung kebutuhan rakyat — yakni kesehatan dan kemanusiaan,” tegas Wali Nanggroe.
Dalam kesempatan itu, Wali Nanggroe juga menyampaikan tiga pesan penting. Pertama, Pemerintah Aceh diminta memberi dukungan penuh terhadap pengembangan rumah sakit melalui regulasi dan integrasi sistem layanan. Kedua, BPJS Kesehatan dan lembaga asuransi diharapkan menjalin kemitraan agar layanan tetap terjangkau bagi masyarakat. Ketiga, institusi pendidikan kedokteran dan keperawatan diimbau menjadikan rumah sakit ini sebagai tempat praktik, riset, dan pengabdian bagi tenaga medis muda Aceh.
Wali Nanggroe menutup sambutannya dengan mengingatkan pentingnya kesehatan sebagai fondasi utama pembangunan manusia Aceh.
“Tanpa rakyat yang sehat, pembangunan tidak akan bermakna. Mari jadikan rumah sakit ini sebagai momentum memperkuat komitmen membangun Aceh dengan hati, akal, dan nilai kemanusiaan yang luhur,” ungkap Wali Nanggroe.




