TAPAKTUAN | MA — Masyarakat Aceh baru saja melewati perayaan tradisi “Makmeugang” (punggahan). Budaya itu, berlangsung, dua hari sebelum pelaksanaan puasa pertama.
Sedangkan, satu hari sebelum memasuki 1 Ramadhan, masyarakat di Aceh umumnya membiasakan diri mandi-mandi di sungai dengan maksud agar benar-benar suci sebelum ibadah pelaksanaan puasa.
Pada hari “makan-makan” itu, bersama anggota keluarga dan handai tolan, biasanya menikmati makanan daging yang telah dimasak pada hari “mak meugang”.
Bahkan, sebagian penduduk di pedalaman Aceh masih menganggap mandi-mandi tersebut sebagai “ritual” dan di salah satu daerah menyebut dengan “mandi balimau”.
Hari-hari “makan-makan”, kini berkembang menjadi kegiatan pariwisata dengan aneka ragam bentuknya.
Tradisi “mak meugang”, merupakan salah kebiasaan masyarakat Aceh yang berlangsung secara turun-temurun dan hanya ada ketika menjelang bulan Ramadan, menyambut Idul Fitri dan Idul Adha.
Tradisi ini menjadi momen istimewa bagi masyarakat Aceh untuk menikmati hidangan daging bersama keluarga, sebagai bentuk rasa syukur dan kebersamaan.
Menurut salah seorang akademisi di Aceh Selatan Hasbaini, S. Pd, M. Pd, dengan masih lestarinya “mak meugang’ di Aceh tidak hanya mempertahankan warisan budayanya, tetapi juga memperkuat nilai-nilai kebersamaan, dan kepedulian sosial bersama kaum dhuafa yang telah ada sejak ratusan tahun lalu



