TARUNA UNTUK ACEH TAMIANG

Menurut Danjen Akademi TNI, kehadiran Taruna dan Kadet di wilayah terdampak bencana tidak boleh dipandang sebagai rutinitas latihan tahunan. Lebih dari itu, ini adalah pengabdian kemanusiaan yang menuntut kepekaan sosial, empati, dan ketulusan niat.

Aceh Tamiang, kata dia, bukan sekadar lokasi kegiatan, melainkan ruang belajar nyata tentang arti pengabdian kepada bangsa dan negara. Di hadapan masyarakat yang sedang berjuang bangkit, setiap sikap, tutur kata, dan tindakan Taruna akan menjadi cerminan wajah negara.

BACA JUGA...  Di Tengah Bencana Banjir, Dugaan Penimbunan Tenda Belajar dan Dana Bantuan BPMP Aceh Mencuat

Letjen TNI Sidharta Wisnu Graha menekankan bahwa seluruh Taruna dan Kadet harus mempedomani nilai-nilai Petarung; nilai karakter yang selama ini diajarkan di lingkungan Akademi TNI dan Akademi Kepolisian.

Nilai tersebut tidak boleh berhenti sebagai doktrin di ruang kelas, tetapi harus terimplementasi dalam tindakan nyata di lapangan.

Ia juga mengingatkan pentingnya pengabdian terintegrasi lintas matra. Dalam konteks Latsitardanus, Taruna TNI dari berbagai matra, Taruna Polri, dan Kadet bekerja dalam satu kesatuan tugas.

BACA JUGA...  Kenali Gejala Dan Pencegahan Virus Corona

Tidak ada sekat institusi, tidak ada ego korps. Yang ada hanyalah satu tujuan; membantu masyarakat dan mendukung pemulihan wilayah pascabencana.

“Fondasi persaudaraan harus dibangun sejak dini. Di sinilah kalian belajar bekerja bersama, saling menghormati, dan saling menguatkan dalam misi kemanusiaan,” pesan Danjen Akademi TNI.

Bagi masyarakat Aceh Tamiang, kehadiran ratusan Taruna dan Kadet membawa dampak lebih dari sekadar bantuan fisik.