Harapan Dinas Pendidikan Aceh Tamiang ditegaskan; tidak boleh ada satu pun anak kehilangan hak belajar akibat bencana. Sekolah harus menjadi ruang aman, ramah anak, dan berorientasi pemulihan.
SEKOLAH TIDAK SELALU PUNYA DINDING
DI ACEH TAMIANG hari ini, sekolah tidak selalu punya dinding, bangku, atau papan tulis. Tapi ia tetap hidup—di tenda darurat, di rumah warga, di lantai beralas terpal.
Di tengah bencana ekologis yang membuka luka panjang tentang lingkungan dan tata kelola, kebijakan pendidikan darurat ini menjadi satu penanda penting; bahwa negara masih hadir, setidaknya melalui keberanian untuk berkata [belajar tidak boleh berhenti, bahkan ketika segalanya runtuh]. [].




