Sekda Aceh Utara Buka Bursa Inovasi Desa Di Baktiya

Lhoksukon, ( ADC ) – Sekda Aceh Utara Abdul Aziz, SH, MH, MM, Rabu ( 28/8/2019 ) membuka Bursa Inovasi Desa ( BID ) di Kecamatan Baktiya, Aceh Utara. Acara berlangsung di aula kantor Camat setempat.

Kegiatan BID tersebut dengan tema ” Melalui Bursa Inovasi Desa Mari Kita Wujudkan Peningkatan Produktifitas Dalam Pemanfaatan Dana Desa Menjadi Desa Mandiri, Kreatif Dan Inovatif Menuju Pembangunan Berkualitas “.

Abdul Aziz dalam kata sambutannya mengatakan pelaksanaan bursa inovasi desa diharapkan dapat memberikan motivasi dan inovasi baru bagi desa untuk berpartisipasi dalam proses menggali dan mengembangkan potensi yang ada di masing-masing Ganampong (Desa).

“Agar kedepan dapat semakin mandiri dalam ekonomi yang ditopang oleh BUMG yang ada didesa-desa,” kata Aziz

Lanjut Aziz, bahwa inovasi desa ini bertujuan untuk mendongkrak dan membangkitkan semangat dalam melakukan hal-hal terkait pembangunan desa dan pemberdayaan masyarakat.

Sebagai pemerintah Kabupaten Aceh Utara berkomien untuk memberikan dukungan kepada semua pihak dalam menyukseskan program Inovasi Desa di wilayah Kecamatan Baktiya. Kata Aziz

BACA JUGA...  Walikota Siantar dan Danrem 022/PT serta Dandim Bertatap Muka Langsung dengan Masyarakat Penerima Renovasi RTLH

Sementara itu lanjut Aziz, kita akan melihat kedepan dimana desa yang ada di Aceh Utara harus maju dan berkembang dengan adanya program Bursa Inovasi Desa, yang sebentar lagi semua Desa yang ada di Indonesia akan melaksanakan program Bursa Desa ini.

Aziz dalam kata sambutannya juga mengatakan dimana dirinya di undang oleh kerajaan Arab Saudi mewakili Aceh Utara pada tahun 2018, dalam pertemuan tersebut mengajak kerjasama dibidang perternakan kambing.

“Dalam pertemuan tersebut kerajaan Arab Saudi menjelaskan bahwa mereka butuh hewan kurban dan untuk restoran – restoran yang ada disana,” jelas Aziz

Dirinya mengajak masyarakat Aceh Utara umumnya dan khususnya Kecamatan Baktiya dimana dirinya pernah mendapatkan informasi di Baktiya ini banyak masyarakat bergerak dibidang ternak kambing dan ini suatu program yang sangat bagus, dengan adanya seperti ini kita bisa melakukan kerja sama dengan kerajaan Arab Saudi dibidang ekspor ternak.

BACA JUGA...  Kawanan "Hantu Jalan" Diamankan Polisi, Kapolres Aceh Utara: Mereka Bukan Begal

Sementara itu Ramli, SH di dampingi oleh koordinator pendamping desa Yusri A.Md mengatakan perternakan kambing mendapat pilihan terbanyak dalam kegiatan BID Kecamatan Baktiya. Dari bidang Verifikasi Inovasi Tenaga Pendamping Desa ( TPID ) Baktiya, peserta BID di Baktiya memilih untuk usaha ternak kambing.

Sebelumnya, para peternak telah berhasil mengembangkan ternaknya dengan dana pribadi, diantaranya Desa Rambong Dalam, Desa Pucok Alue, Cot Mane, dan Desa Alue Keutapang. Ketika Tim TPID setempat membuka peluang peternakan menggunakan dana desa, keinginan mereka dalam ternak kambing semakin meningkat. Ujar Ramli

Dalam acara itu sekda memberikan informasi bagi peternak kambing ini ada peluang kambing bisa di pasarkan ke Arab Saudi, dan disini kita lihat minat dari peternak kambing makin meningkat. Kata Ramli

Sebanyak 57 desa di Baktiya mengikuti Bursa Inovasi Desa, peserta yang diwakili Geuchik, Tuha Peut, dan perwakilan dari perempuan, memilih usaha sesuai yang dikembangkan di desa masing-masing. Selain ternak kambing, mereka juga memilih pengairan melalui pompa tanpa listrik, susu kambing etawa, budidaya lele, dan jumlah usaha lainnya.

BACA JUGA...  Danlantamal I Belawan, Janjikan Armada Kapal Patroli Untuk Simeulue

Terkait dalam mengolola dana desa, di Aceh Utara masih jalan ditempat, artinya jalan ditempat yang dimaksud dalam pemberdayaan ekonomi masyarakat dana desa masih kurang bergerak di Badan Usaha Milik Gampong ( BUMG ), lebih cenderung dana desa diperuntukkan untuk pembangunan fisik. Sehingga hanya sebagian kecil desa yang mengembankan dana desa di peruntukan ke BUMG. Sebut Aziz

Padahal, peluang dana desa untuk usaha sangat besar, dirinya mencotohkan satu desa di Aceh Utara yaitu Banda Baro ” Di sana sulit mendapatkan air bersih dari hasil musyawarah lahirlah suatu kesepakatan untuk membangun sumber air bersih dengan menggunakan dana desa.” Sekarang ini warga bisa mendapatkan air bersih. Dan desa mendapatkan keuntungan dari air tersebut dari retribusi air bersih yang dibayar oleh masyarakat ke desa. Pungkasnya. ( SF ).