Kesepakatan Damai Helsinki
Pada tahun 2005, Pemerintah Indonesia dan GAM memulai perundingan damai di Vantaa, Finlandia, yang difasilitasi oleh mantan Presiden Finlandia, Martti Ahtisaari.
Perundingan ini menghasilkan nota kesepahaman yang ditandatangani pada 15 Agustus 2005.
Dalam kesepakatan tersebut, GAM setuju untuk tetap berada dalam NKRI, dengan syarat pemberian otonomi khusus bagi Aceh, pembentukan partai lokal, dan amnesti bagi seluruh anggota GAM.
Proses pelucutan senjata selesai pada Desember 2005, dengan menyerahkan 840 pucuk senjata kepada Misi Monitoring Aceh (AMM).
GAM secara resmi membubarkan sayap militer mereka dan bertransformasi menjadi kekuatan politik lokal.
Mualem dan Transformasi Eks Kombatan
Di bawah kepemimpinan Muzakir Manaf atau Mualem, eks kombatan GAM yang tergabung dalam KPA terus berperan aktif dalam pembangunan Aceh.
Mualem dikenal sebagai salah satu tokoh yang mendorong perdamaian dan memanfaatkan momentum damai untuk memperkuat posisi politik Aceh melalui partai lokal.
Ia juga memimpin instruksi untuk memperingati Milad GAM dengan semangat refleksi dan penghormatan kepada perjuangan masa lalu.
“Doa, zikir, dan santunan adalah bentuk penghormatan kami kepada sejarah dan perjuangan para pendahulu. Ini bukan hanya milik eks kombatan, tapi juga seluruh masyarakat Aceh,” ujar Mualem dalam salah satu pidatonya.




