Setelah masa persalinan, Dinkes memastikan anak-anak menerima ASI eksklusif, imunisasi lengkap, dan pemantauan kesehatan rutin melalui Posyandu. Namun, capaian imunisasi masih rendah, yaitu baru 45 persen, sehingga menjadi salah satu tantangan besar. Selain itu, program pencegahan stunting juga menyasar remaja putri dengan pemberian tablet tambah darah serta edukasi gizi. Keterlibatan keluarga, kader Posyandu, dan perangkat desa menjadi bagian penting dalam memaksimalkan program ini.
Sebutnya, kendala utama yang dihadapi meliputi kurangnya kesadaran masyarakat, penyebaran informasi hoaks tentang vaksin, rendahnya praktik PHBS, kemiskinan, dan paparan asap rokok.
Dinkes Aceh Utara menekankan pentingnya pemahaman tentang KB demi kesehatan ibu dan anak, serta menyerukan peran aktif seluruh masyarakat dalam memanfaatkan layanan gratis di Posyandu dan Puskesmas. “Dengan upaya kolektif ini, diharapkan generasi masa depan Aceh Utara tumbuh sehat dan cerdas menuju Indonesia Emas 2045,” pungkasnya. (Sayed Panton)




