Rupiah Tembus 17.300, Perekonomian Indonesia Tengah Menghadapi konvergensi krisis yang sistemik

JAKARTA | MA β€” Situasi perekonomian Indonesia saat ini dinilai tengah menghadapi konvergensi krisis yang sistemik. Berbeda dengan guncangan eksternal pada umumnya, indikator makro dan mikro ekonomi saat ini menunjukkan adanya risiko spesifik dari dalam negeri (idiosyncratic risk) yang memicu eskalasi tekanan di berbagai sektor.

Analisis tersebut disampaikan oleh Wakil Ketua Umum Partai Kebangkitan Nusantara (PKN) Denny Charter melalui unggahan terbarunya di media sosial.

BACA JUGA...  Pemkab Asel Gelar FPD/LPD : Fokus Tahun 2025-2029, Peningkatan Kebutuhan dan Pertumbuhan Ekonomi MasyarakatΒ 

Menurut Denny, situasi saat ini dapat diklasifikasikan ke dalam empat titik kerentanan utama yang membawa Indonesia ke jurang ancaman stagflasi.

1. πΎπ‘Ÿπ‘–π‘ π‘–π‘  πΎπ‘’π‘π‘’π‘Ÿπ‘π‘Žπ‘¦π‘Žπ‘Žπ‘› π‘ƒπ‘Žπ‘ π‘Žπ‘Ÿ π‘‘π‘Žπ‘› π΄π‘›π‘œπ‘šπ‘Žπ‘™π‘– π‘π‘–π‘™π‘Žπ‘– π‘‡π‘’π‘˜π‘Žπ‘Ÿ.

Sorotan utama jatuh pada depresiasi Rupiah yang telah menembus level psikologis historis Rp 17.300 per dolar AS, menyamai rekor krisis moneter 1998. Denny menyebut pelemahan ini sebagai sinyal bahaya yang tidak biasa.

BACA JUGA...  Ekonomi Nasional Merosot, Semangat Berkurban Umat Islam Tetap Tinggi

“Fakta bahwa USD justru sedikit melemah terhadap mata uang utama lain mengindikasikan bahwa depresiasi Rupiah didorong secara eksklusif oleh pelarian modal masif akibat hilangnya kepercayaan investor terhadap fundamental ekonomi domestik,” tulis Denny dalam unggahannya.

Hal ini terkonfirmasi dari aksi jual di pasar modal yang menekan IHSG turun tajam ke level 6.900, kehilangan 22% dari titik puncaknya di Januari 2026. Selain itu, arus modal asing yang keluar juga tercermin dari naiknya imbal hasil (yield) obligasi pemerintah tenor 10 tahun sebesar 50-60 basis poin.