2. πΈπππ π πππππ‘ππ πΌπππππ‘ππ πΌπππππ‘πππ.
Pelemahan nilai tukar yang drastis telah menciptakan inflasi dorongan biaya (cost-push inflation). Ketergantungan Indonesia pada bahan baku impor memicu lonjakan harga eksponensial di berbagai sektor.
Denny merinci, harga produk IT dilaporkan naik 50-75%, harga plastik di sektor manufaktur meroket lebih dari 50%, hingga harga bahan baku obat-obatan yang naik lebih dari 10%. Situasi ini diperparah dengan penyesuaian harga BBM non-subsidi (40-60%) dan Gas LPG non-subsidi (18%) yang semakin mengikis daya beli kelas menengah.
3. πΏπππ’ππππ‘ππ πΎππ‘ππ‘ π΅πππ’ππ’ππ π΄ππππππ ππ‘ππππππ π.
Kombinasi antara lonjakan beban operasional akibat inflasi impor dan pengetatan likuiditas di pasar uang (JIBOR naik >50 bps) dinilai sangat mencekik sektor riil. Biaya dana yang tinggi membuat ekspansi bisnis terhenti dan memicu gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).
“Dampaknya adalah gelombang PHK di sektor padat karya seperti tekstil dan garmen, teknologi, hingga sektor komoditas unggulan. Kondisi ini mengarah pada ancaman stagflasi, di mana inflasi melonjak bersamaan dengan stagnasi pertumbuhan dan tingginya pengangguran,” tegas Denny.
Sentimen negatif ini bahkan membuat posisi Indonesia pada FDI Confidence Index 2026 anjlok ke peringkat 13, kalah saing dari Thailand dan Malaysia.




