Martunis berharap dukungan dari pemerintah, lembaga sosial, dunia usaha maupun masyarakat dapat terus mengalir hingga seluruh fasilitas yang dibutuhkan anak-anak benar-benar terpenuhi.
Sebab, bagi sekolah yang pernah diterjang banjir bandang, pemulihan bukan hanya soal membangun dinding dan atap.
Pemulihan adalah mengembalikan tempat anak-anak belajar, bermain dan bermimpi.
“Bencana boleh merobohkan bangunan, tetapi jangan sampai menghanyutkan mimpi anak-anak. Kita sedang membangun kembali sekolah sekaligus membangun kembali harapan mereka,” tegas Martunis.
Kini, dari Gampong Geudumbak, cerita tentang bangkit dari bencana terus ditulis.
Taman bermain yang pernah hanyut mungkin belum seluruhnya kembali. Fasilitas sekolah masih membutuhkan penyempurnaan. Namun langkah pertama telah dilakukan: ruang belajar kembali tersedia dan anak-anak kembali memiliki tempat untuk menatap masa depan.
“Banjir boleh membawa pergi banyak hal. Tetapi dari Geudumbak, satu hal terbukti tidak ikut hanyut yaitu harapan,” pungkas Martunis. (Sayed Panton)




