oleh

Reevaluasi & Revitalisasi Organisasi Buruh Pada Era Milineal

Cara mengelola organisasi buruh pada era milineal dekarang ini sudah menjadi keharusan untuk menemukan formulanya yang baru, karena cara lama misalnya seperti model pada tahun 1980 -1990-an bahkan cara seperti tahun 2000-an pun tampaknya sudah ketinggalan jaman. Meski budaya kaum buruh sendiri agaknya pun tidak banyak berubah. Setidaknya keengganan kaum buruh untuk berserikat masih menjadi persoalan bagi organisasi buruh sampai hari ini.

Meski jumlah organisasi buruh cukup pesat berkembang biak jumlah, tetap tidak paralel dengan jumlah buruh yang mau bergabung dengan organisasi buruh. Sebabnya adalah tingkat kesadaran kaum buruh sendiri yang harus dibangun melalui pendidikan dan pelatihan sangat kurang dilakukan atau bahkan nyaris tidak pernah lagi dilakukan. Masalahnya, bukan hanya lantaran organisasi buruh tidak punya uang, tatapi juga antusiasme kaum butuh sendiri.untuk mengikuti pelatigan dan pebdidikan mengenai seluk beluk perburuhan amat sangat rendah.

Kesan keengganan dari organisasi buruh melakukan pendidikan dan pelatihan, agaknya bukan saja lantaran duit dan pelit, tetapi juga tenaga ahli yang mumpuni untuk memberi serta melakukan pendidikan dan pelatihan itu pun sangat langka. Tidak banyak.

Jika pun ada pelatihan san pendifijan yang dilaksanakan oleh organisasi, tingkat keseriusannya sudah semakin melemah.

Boleh jadi melemahnya hasrat melaksanakan dan mengikuti pendidikan serta pekatihan mengenai seluk beluk pernuruhan ini sebabnya yang utama adalah karena idealisme untuk memperjuangkan perbaikan kondisi buruh di Indonesia tidak mampu dipahami sebagai bagian dari upaya membangun bangsa.

Kaum buruh sebagai soko guru bangsa belum bisa dipahami semacam pekerjaan yang mulia demi dan untuk kemaslahatan orang banyak. Setidaknys dari 270 juta rakyat Indonesia 142 juta adalah kaum buruh yang bekerja diberbagai sektor pekerjaan. Realitasnya, lebih dari separo saudara dekat kita masing-masing adalah buruh yang bergelantungan nasib dan hidup serta kehidupannya pada orang lain.

Atas dasar pemikiran dan kesadaran bahwa tugas utama dari keberadaan organisasi buruh untuk memperjuangkan kebebasan buruh guna mempunyai posisi setara dengan otiritas dari para pengusaha sehingga kaum buruh dapat memilki posisi berunding yang setara dengan pihak pengusaha — hingga bisa memperoleh perlakuan sebagai mitra — maka upaya untuk melakukan semacam reevaluasi dan revitalisasi organisasi buruh harus dan semakin mendesak untuk dilakukan.

Reevaluasi organisasi buruh bisa dilakukan dengan meninggalkan cara-cara lama yang sudah tidak lagi relevan pada era milineal dengan mengubah atau sama sekali mengganti cara lama itu dengan cara atau model yang baru. Bila perlu menciptakan formula yang baru, misalnya untuk melakukan rekruitmen, konsolidasi hingga promosi atau kampanye dengan memaksimalkan media sosial. Sehingga sangat mungkin pada setiap jenjang organisasi dari daerah hingga pusat dijembatani oleh media sosial yang dikelola secara maksimal dan terorganisir dengan baik.

Untuk itu pasti diperlukan pelatihan dan pendidikan yang tidak lagi dilakukan dengan cara lama yang konvensional model dan gayanya. Boleh jadi tampilan aktivis buruh pun tidak lagi boleh kumuh. Strategi maupun teknik rekruitmen pun bisa saja tak lagi perlu dengan tampilan serius. Namun tujuan pokok dari rekruitmen itu sendiri bisa lebih mengena serta mencapai target penambahan anggota dan penguatan organisasi. (***)

Jakarta, 1 Maret 2020

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BACA JUGA..