Pasir, Batu, dan Hilangnya Hak Rakyat

Selasa, 2 Juni 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

KETUA MPC Pemuda Pancasila Kabupaten Aceh Tamiang, Edi Syahputra, S.T., menyampaikan keprihatinan mendalam atas dugaan maraknya aktivitas tambang galian C ilegal yang berkembang di sejumlah wilayah pascabanjir hidrometeorologi.

Menurut Edi, persoalan tersebut tidak dapat dipandang hanya sebagai pelanggaran administrasi perizinan semata.

Aktivitas pengambilan sumber daya alam tanpa izin yang sah berpotensi menghilangkan hak negara dan daerah atas penerimaan yang seharusnya diperoleh melalui mekanisme yang telah diatur dalam peraturan perundang-undangan.

“Setiap meter kubik pasir, batu, sirtu, dan material lainnya yang diambil tanpa izin berarti terdapat potensi pendapatan daerah yang hilang. Padahal, penerimaan tersebut dapat digunakan untuk membiayai pembangunan, pelayanan publik, pemulihan pascabencana, pendidikan, kesehatan, serta berbagai program kesejahteraan masyarakat,” ujar Edi Syahputra.

Ia menilai kondisi tersebut menjadi semakin ironis karena terjadi di tengah kebutuhan anggaran yang cukup besar untuk mempercepat rehabilitasi dan rekonstruksi pascabanjir di Aceh Tamiang.

BACA JUGA...  Kapolresta Deli Serdang Resmikan Polsek Bandara KNIA

MPC Pemuda Pancasila, lanjut Edi, juga mencermati adanya informasi dan dugaan yang berkembang di tengah masyarakat terkait kemungkinan penggunaan material hasil tambang ilegal untuk memenuhi kebutuhan sejumlah proyek pembangunan yang sedang berjalan.

“Apabila dugaan tersebut benar dan nantinya dapat dibuktikan melalui proses hukum maupun investigasi yang objektif, maka persoalannya tidak lagi terbatas pada pelanggaran di sektor pertambangan dan lingkungan hidup. Dampaknya dapat menyentuh aspek tata kelola pembangunan serta berpotensi menimbulkan kerugian terhadap keuangan negara maupun daerah,” katanya.

Menurut Edi, praktik semacam itu berpotensi menciptakan ketidakadilan bagi pelaku usaha yang selama ini menjalankan kegiatan usahanya sesuai ketentuan hukum.

BACA JUGA...  Jangan Rong-Rong Pancasila

“Mereka yang mengurus izin, membayar pajak, memenuhi kewajiban lingkungan, dan menjalankan usaha secara legal harus bersaing dengan pihak-pihak yang diduga beroperasi tanpa menanggung kewajiban yang sama. Ini jelas mencederai prinsip persaingan usaha yang sehat,” tegasnya.

Selain aspek ekonomi, Edi juga menyoroti potensi dampak lingkungan yang dapat ditimbulkan akibat aktivitas pengambilan material secara tidak terkendali, khususnya di kawasan sungai dan daerah aliran sungai.

BACA JUGA...  BPKS MoU Dengan Kejaksaan Negeri Sabang

Berita Terkait

Nurzahri: Kita  Apresiasi Kepada Bang Barona Raja Udah Tangani ODGJ di Aceh Utara
Rembuk Stunting, Desa Kumbang Siapkan Program Prioritas 2027
Puskesmas Apresiasi Penanganan ODGJ di Aceh Utara
ODGJ Asal Cot Petisah Dirujuk Ke RS Cut Mutia
JKN Berkelanjutan, BPJS Tapaktuan Gandeng Media
Bank Aceh Sosialisasi IBC Ke Sekolah 
Iskandar: Terima Kasih Ayah Wa, Sudah Mengobati ODGJ di Aceh Utara 
Barona: ODGJ Kita Tangani Berdasarkan Perintah Ayah Wa

Berita Terkait

Selasa, 27 Oktober 2026 - 12:00 WIB

Nurzahri: Kita  Apresiasi Kepada Bang Barona Raja Udah Tangani ODGJ di Aceh Utara

Selasa, 13 Oktober 2026 - 22:27 WIB

Rembuk Stunting, Desa Kumbang Siapkan Program Prioritas 2027

Selasa, 13 Oktober 2026 - 13:29 WIB

Puskesmas Apresiasi Penanganan ODGJ di Aceh Utara

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 12:57 WIB

ODGJ Asal Cot Petisah Dirujuk Ke RS Cut Mutia

Senin, 28 September 2026 - 20:12 WIB

JKN Berkelanjutan, BPJS Tapaktuan Gandeng Media

Berita Terbaru