MENANTI TANGAN SOCFINDO; Saat Kampung Jawa Dan Tanjung Mancang Bertahan Di Tengah Kepungan Lumpur

Mereka yang terisolir

“Kami berharap rasa empati dari manajemen PT Socfindo menurunkan alat beratnya. Untuk hal ini, kan tidak harus Bupati yang memohon, cukup Kalaks BPBD sajalah.”

[Iman Suhery, SSTP, MSP – Kepala Pelaksana BPBD Aceh Tamiang].

  • Hari ke-22, Sunyi dan Masih Menggantung di Lereng Kejuruan Muda

SUDAH dua puluh dua hari berlalu sejak air berlumpur memuntahkan amarahnya dari perut rimba. Namun, di Kampung Jawa dan Kampung Tanjung Mancang, kesunyian belum juga berakhir.

BACA JUGA...  Bencana Alam Longsornya Bebatuan Gunung Sibolangit Telan Korban Tewas

Jalan yang menjadi nadi kehidupan, putus. Bukit yang dulu hijau, kini menyisakan dinding tanah merah yang longsor. Warga bertahan di antara puing, dengan logistik yang makin menipis, dan harapan yang mulai kering.

Satu-satunya cara untuk bertahan hidup kini hanyalah memanggul beras di bahu sendiri, menyusuri jalan curam yang berubah menjadi kubangan lumpur.

BACA JUGA...  Banjir dan Longsor Berulang di Pining, Warga Desa Pertik Kian Terdesak

Mereka berjalan berjam-jam hanya untuk membawa beberapa kilogram bahan makanan dari kampung sebelah. Bukan karena mereka tak punya tekad, tetapi karena akses jalan terputus total.

“Kalau tidak dipanggul, ya kelaparan. Sudah hampir tiga minggu, tak ada kendaraan yang bisa lewat,” ucap Abdul Aziz, Mukim Kemukiman Kejuruan Muda, dengan nada getir yang tertahan.

BERTARUNG DENGAN ALAM DAN WAKTU