Ia juga mengakui bahwa bantuan dari pihak swasta sangat dibutuhkan untuk mempercepat pemulihan. “Kami tidak bisa bekerja sendiri. Perusahaan besar seperti Socfindo punya peran penting di sini,” tambahnya.
BENCANA EKOLOGI; KETIKA ALAM MENAGIH JANJI
HINGGA kini, di Aceh Tamiang masih banyak bekas luka ekologis yang belum sembuh. Dari udara, tampak jelas jejak deforestasi besar-besaran yang telah berlangsung puluhan tahun. Sebagian lahan yang dulu menjadi kawasan resapan air kini berubah menjadi kebun sawit yang kering dan terbuka.
Air hujan yang turun tidak lagi diserap tanah, tapi mengalir deras ke bawah, membawa lumpur dan batang kayu. Maka ketika curah hujan tinggi datang, longsor dan banjir adalah keniscayaan.
“Air berwarna cokelat itu membawa masa lalu kita yang salah,” kata Sayed Zainal M, SH. Direktur eksekutif LembAHtari. “Kita menebang hutan tanpa pikir panjang, dan sekarang alam menagih utang.”
Sebut Sayed, bahwa; PT Socfindo merupakan perusahaan tertua di Indonesia, yang memiliki lahan konsesi tidak hanya di Aceh Tamiang saja, tapi di kabupaten Aceh lain juga ada.
Jika bicara terdampak semua perusahaan perkebunan kelapa Sawit di Aceh Tamiang terdampak, “Jadi bukalah rasa empati membantu sesama, membantu adalah amal ibadah yang diukur oleh Allah SWT,” tegasnya bertamsil.




