LHOKSUKON | MA — Kondisi kedangkalan di Kuala Catok, Kecamatan Seunuddon, Kabupaten Aceh Utara, semakin memprihatinkan. Sudah bertahun-tahun para nelayan di kawasan tersebut harus menghadapi kesulitan saat hendak melaut maupun ketika kembali ke daratan.
Akibat sedimentasi dan pendangkalan yang terus terjadi, nelayan hanya bisa keluar dari kuala ketika air laut sedang pasang. Sebaliknya, jika air laut surut, perahu mereka tidak dapat masuk, sehingga sebagian besar hasil tangkapan terancam busuk, karena terlambat sampai ke darat.
Hal ini disampaikan oleh Panglima Laot Seunuddon, T. Bakhtiar, yang didampingi oleh Geuchik Gampong Bantayan, Fadhal, kepada media pada Selasa (14/10). Menurut Bakhtiar, kondisi tersebut sudah berlangsung cukup lama tanpa penanganan serius dari pihak berwenang.
“Kami para nelayan sudah sangat resah. Setiap kali air laut surut, kami tidak bisa keluar ataupun masuk ke kuala. Akibatnya, aktivitas melaut menjadi terbatas, dan pendapatan nelayan terus menurun. Kami berharap pemerintah, baik pusat, provinsi, maupun kabupaten, segera turun tangan untuk menormalisasi alur kuala ini,” ujar Bakhtiar dengan nada harap.
Ia menambahkan, mayoritas masyarakat di Kecamatan Seunuddon menggantungkan hidupnya dari hasil laut. Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka ratusan nelayan terancam kehilangan mata pencaharian. Selain itu, dampak ekonomi juga akan dirasakan oleh pedagang ikan dan masyarakat sekitar yang turut bergantung pada aktivitas perikanan.





