Sebagai rakyat yang sejati dan pejuang yang tangguh, harus bisa membaca, melihat, mendengar, merasakan dan mengintropeksikan diri, apakah kita telah berbuat banyak untuk Aceh ini, baik dalam mengisi masa transisi (perdamaian) maupun dalam mempersiapkan diri untuk menggapai kemenangan, ataukah kita berada pada posisi yang dijajah dalam berbagai bentuk regulasi?
Dalam hal ini, kita tidak boleh membanggakan diri di segala bidang, bahkan dalam masa perdamaian ini, akan tetapi kebanggaan itu bisa ditunjukan ketika tujuan akhir (finishing) sudah tergenggam di tangan kita semua. Kebanggaan tersebut, harus dijaga agar tidak menjadi lengah dan terbuai dengan metafora yang diucapkan serta membuat Aceh kembali terjajah.
“Maka, yang sangat dibutuhkan adalah rasa bersyukur kepada Allah SWT yang telah memberikan kita kekuatan dan kesolidan dalam melalui berbagai rintangan di masa lalu,” ajaknya.
Pada kesempatan milad GAM ke-47 ini, saya tegaskan kepada anggota KPA seluruh Aceh, Kepengurusan Partai Aceh serta seluruh underbow (MUNA, Putroe Aceh, Inong Balee, Muda Seudang Aceh dan JASA) agar tetap menjadi bangsa yang besar yang dapat berdiri sendiri
“Atas dasar tujuan dan cita-cita dari leluhur kita. Kita tidak boleh menjadi bangsa miskin dan bodoh, yang hanya bisa menghabiskan hasil dan kandungan alam secara menyeluruh, kita harus terus belajar dan berjuang,” tegasnya.
Halaman : 1 2 3 4 5 Selanjutnya















