Kini semua itu telah berlalu dan dibayar mahal oleh perjuangan dan pengorbanan para syuhada yang melahirkan Memorandum of Understanding (MoU) Helsinky antara GAM dan Pemerintah RI pada 14 Agustus 2005 di Finlandia.
Perjuangan rakyat Aceh sangat panjang dan melelahkan, pertama menghadapi agresi Belanda pada tahun 1873, Jepang pada tahun 1942-1945.
Dan DI/TII tahun 1953-1960 serta konflik bersenjata dengan Pemerintah Republik Indonesia selama 29 tahun, yang mulai pada tahun 1976 dan berakhir pada tahun 2005.
Itu disampaikan Ketua Komite Peralihan Aceh (KPA) Wilayah Teuming [Tamiang], Ishak saat membacakan sambutan Paduka Yang Mulia Wali Nanggroe Aceh Tengku Malik Mahmud Al-Haythar pada Milad GAM ke-47 di Menasah Babul MuTTAQIM Kampung Seunebok Dalam Upah Kecamatan Bendahara, Senin, 4 Desember 2023.
“Tanggal 4 Desember 2023, sama-sama kita bisa mengenang kembali sejarah yang berkaitan langsung dengan perjuangan Aceh. Milad GAM ke-47 ini mengusung tema Terus Melangkah, Menjemput Cita-Cita,” sebut Ishak dalam sambutannya.
Ishak yang akrab disapa Kureng menjelaskan 47 tahun yang lalu, penuh dengan pertimbangan sejarah dan aturan-aturan hukum internasional serta keberanian dan tekat Paduka Wali Nanggroe Almarhum DR. Tengku Tjhik Di Tiro Hasan bin Muhammad beserta para sahabatnya mendeklarasikan kemerdekaan kembali untuk Aceh di pegunungan Halimon, Pidie. Di saat itu pula, almarhum mengibarkan bendera Bulan Bintang sebagai bendera negara Aceh.





