“Melalui olahraga, Brimob ingin menunjukkan bahwa kedekatan dengan masyarakat tidak harus dibangun lewat seremonial, tapi bisa lewat keringat, tawa, dan sportivitas di lapangan.”
[Kompol Muzakkir, Danyon B Pelopor Sat Brimob Polda Aceh].
ANGIN sore dari arah laut Lhokseumawe berhembus lembut ketika suara peluit panjang menggema di GOR Sigapore VC, Jalan Elak. Sorak-sorai penonton memecah udara, bersahutan dengan dentuman bola voli yang membentur lantai lapangan.
Dari barisan tribun, warga berdesakan menyaksikan para pemain muda beradu servis, smash, dan strategi.
Di tengah euforia itu, tampak Komandan Batalyon B Pelopor Sat Brimob Polda Aceh, Kompol Muzakkir, berdiri dengan senyum bangga.
Turnamen semi-open yang digelar ini bukan sekadar pesta olahraga. Ia adalah bagian dari perayaan Hari Ulang Tahun ke-80 Korps Brimob Polri, sebuah momentum yang dimaknai lebih dari sekadar nostalgia sejarah panjang pengabdian, tetapi juga pengikat tali silaturahmi antara Brimob dan masyarakat.
Dari Lapangan ke Kehangatan Komunitas.
SEBANYAK 16 klub bola voli putra dari berbagai daerah di Aceh turut ambil bagian dalam perhelatan ini. Lima di antaranya berasal dari internal Brimob, sementara sebelas sisanya merupakan tim-tim eksternal, dari komunitas pemuda, instansi pemerintahan, hingga klub independen dari Takengon dan sekitarnya.
“Ini bukan hanya tentang siapa yang menang atau kalah,” kata Kompol Muzakkir kepada wartawan seusai membuka pertandingan. “Lebih dari itu, kami ingin menumbuhkan semangat sportivitas dan memperkuat sinergi antara Brimob dan masyarakat. Olahraga adalah bahasa universal kebersamaan.”
Pernyataan itu bukan basa-basi. Sejak tahap persiapan, Brimob melibatkan warga sekitar GOR Sigapore VC, dari tukang parkir, pedagang kecil, hingga pemuda karang taruna.




