Mereka bekerja bahu-membahu membersihkan lapangan, menata tenda, hingga menyiapkan konsumsi bagi para peserta. “Ini seperti lebaran olahraga,” ujar Rahmad, ketua pemuda setempat sambil tersenyum. “Anak-anak muda jadi semangat lagi, lapangan pun hidup.”
Semangat yang Menular di Setiap Set.
DI atas lapangan, laga demi laga berlangsung sengit. Sorotan lampu malam memantulkan keringat dan semangat pemain yang berlari mengejar bola. Suara penonton menggelegar setiap kali bola jatuh di garis lawan.
Dengan total hadiah Rp30 juta, kompetisi ini memang menarik minat banyak tim. Namun, uang bukanlah magnet utama.
Banyak pemain menyebut atmosfer kekeluargaan dan semangat kebersamaan menjadi daya tarik sebenarnya.
“Yang penting bisa tampil dan membawa nama daerah,” ujar Fahri, pemain muda dari Takengon. “Bertemu Brimob di lapangan ini bukan soal seragam, tapi tentang rasa hormat dan sportivitas.”
Lebih dari Sekadar Kompetisi.
TURNAMEN ini juga menjadi simbol terbuka dari wajah baru Brimob, yang tak lagi sekadar identik dengan operasi keamanan, tetapi juga hadir sebagai bagian dari denyut sosial masyarakat.
“Kegiatan seperti ini harus menjadi agenda tahunan,” kata ketua panitia. “Kami ingin terus membangun kedekatan melalui hal-hal sederhana, seperti olahraga. Karena dari sinilah, rasa saling percaya itu tumbuh.”
Brimob, melalui turnamen ini, mencoba menepis jarak antara aparat dan rakyat. Di tengah riuhnya bola yang melambung, batas-batas formal itu seolah menguap. Yang tersisa hanyalah tawa, peluh, dan semangat yang sama: membangun Aceh dengan kebersamaan.




