BANGKIT DARI YANG TERSISA.
ACEH TAMIANG telah melewati banyak air mata. Dari puing, lumpur, hingga rumah yang terseret jauh dari tapak, bencana ini meninggalkan bekas mendalam. Namun dari sisa-sisa itu pula muncul satu hal yang tak bisa diseret oleh arus; keteguhan untuk bangkit.
Di setiap jalur yang dibuka kembali, di setiap pasien yang tertolong, di setiap tenda pengungsi yang terpasang lebih layak, ada jejak kerja sunyi yang mengikat masyarakat dengan harapan.
Bupati Armia Pahmi berdiri di tengah-tengah itu—bukan sebagai penyelamat, tetapi sebagai pemimpin yang memilih hadir ketika yang lain runtuh.
Aceh Tamiang memang terluka. Namun ia tidak jatuh. Ia kembali berdiri—pelan, namun pasti. Dengan kerja. Dengan solidaritas. Dan dengan harapan yang tidak pernah padam. [].




