Adegan-adegan lucu, tersebut, justeru menambah kemeriahan hajatan dan memang tujuan untuk menghibur orang tua dan keluarga yang menjalani pesta sunat rasul.
Menurut Hasbaini, S.Pd, M.Pd, seorang pemerhati budaya Kluet, tradisi “Meubobo Alang” itu, tidak diketahui secara persis kapan tercipta atau mulai dilaksanakan.
Namun, telah dilakukan secara turun temurun di kalangan masyarakat Kluet.
“Tradisi “Meubobo Alang” masih eksis di masyarakat Kluet, dan harus tetap dipertahankan, sebagai kekayaan budaya non benda,” katanya.
Menurutnya, acara “Meubobo Alang” itu, diadakan, satu hari sebelum hari H. Tradisi ini cukup menarik dan menghibur, karena selain unsur memeriahkan hajatan, dan memperkuat silaturahmi antar warga.
Kemudian dilakukan penyerahan oleh perangkat adat, dan didampingi oleh perangkat hukum kepada wali si anak sunat di tempat hajatan.
“Meubobo Alang” dapat memperkuat silaturahmi antar keluarga hajatan, dan masyarakat. Yang menciptakan suasana sakral dan penuh kegembiraan,” kata Hasbaini.
Nuansa kemeriahan, besar kecil dan banyaknya undangan yang datang di saat hajatan adalah bersesuaian dengan kemampuan tuan rumah. Seperti, penyembelihan hewan kerbau, sapi atau kambing itu tergantung kepada ketersediaan pemilik hajatan untuk disajikan kepada para tamu dan undangan.




